Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Monday, December 7, 2009

KADO HARI IBU

Sudah semestinya ibu dan anak saling akur,saling curhat,bercanda bersama, dan yang pasti harus menjalin hubungan akrab. Tapi semua itu sangat bertolak belakang pada keluarga yang satu ini. Keluarga yang beranggotakan laki-laki yang telah SMA dan ibunya yang merupakan wanita karir itu memang tak begitu dekat. Apalagi setelah ditinggal mati ayahnya, anak yag bernama Vicky Jonathan dan ibunya itu hanya mementingkan kesibukan masing-masing. Vicky hanya memikirkan sekolahnya saja, sedangkan ibunya hanya memikirkan pekerjaannya saja. Jangankan waktu untuk bercanda, untuk berbicara saja sangat sulit bagi mereka. Hingga rasa egois dan tidak peduli menyelimuti diri mereka masing-masing.,tapi walau begitu, sesungguhnya mereka saling menyayangi dan di lubuk hati mereka yang terdalam ada hasrat ingin menjalin hubungan yang lebih dekat seperti ibu dan anak sebagaimana mestinya.

Ooo0000ooo

Siang yang cerah dengan terik matahari yang hangat,serta awan yang bergerombol indah di langit mengiringi kisah Vicky hari ini. Setelah menjenguk temannya di rumah sakit, ia bergegas untuk pulang dan bersiap diri untuk pulang ke rumah sahabatnya, Andre. Namun ketika ia baru keluar dari bilik temannya yang sakit itu,tiba-tiba ia melihat ibunya sedang keluar dari bilik lain yang jauhnya sekitar 7 meter darinya. Dan beberapa saat kemudian,seorang dokter juga keluar dari bilik yang sama dengan ibunya itu. Ia melihat ibunya dan dokter itu berbincang-bincang sebentar di depan ointu bilik., dan kemudian ibunya pergi meninggalkan sang dokter. Tanpa berfikir panjang, Vicky pun langsung menghampiri dokter yang masih berdiri di depan pintu bilik tersebut.

“Dok,kenapa ibu itu?” Tanya Vicky penasaran.

“ouh,ibu itu.... dia habis cuci darah. Kasihan sekali dia. Semakin hari penyakitnya semakin parah. Mungkin itu karena dia jarang istirahat.”

“memang dia menderita penyakit apa, dok?”

“dia terkene gagal ginjal. Dan parahnya lagi, kematiannya tinggal menghitung hari lagi. Sebab sampai saat ini belum ada orang yang mau mendonorkan ginjal untuknya.”

Deg... Vicky langsung terdiam kaget. Dia tidak percaya ternyata selama ini, ibunya menyembunyikan penyakitnya itu darinya. Dia merasa benar-benar bersalah karena selama ini ia tak pernah peduli pada ibunya, bahkan menganggap ibunya itu tak ada.

Ooo000ooo

Sore harinya Vicky pun menepati janjinya kepada Andre. Di sana ia mencurahkan seluruh hiruk pikuk masalah yang tengah membelitnya itu.

“yaa... ku rasa kau harus mengakrabi ibumu,Vick. Sebelum ia pergi untuk selamanya.” Ucap Andre setelah mendengar semua cerita dari Vicky.

“aku sih maunya juga gitu, Ndre. Tapi itu sulit sekali bagiku. Aku malu,ndre. Tak biasanya aku bicara pada ibuku, apalagi mengakrabinya.”

“tapi kau sayang ibumu kan?”

“tentu saja,ndre. Aku hanya ingin diakhir hidupnya ini, aku dan mama bercanda bersama. Seperti dulu.”

“kau tahu,vick? Besok tanggal 22 desember.”

“lalu? Apa maksudmu?”

“berarti besok hari ibu,vick. Ku rasa itu hari yang tepat buatmu untuk berbicara pada ibumu. Tunjukan bahwa kau benar-benar sayang pada ibumu.”

“kau benar,ndre. Hmm... tapi apa yang harus kuberikan pada mama? Mana hari ibunya besok lagi. Aku haus mencari kado secepatnya dong sekarang.”

“kau tak perlu memberi kado untuk ibumu. Cukup bilang saja kalau kau sayang pada ibumu. Aku yakin ibumu akan merasa bahagia. Selama ini kau tak pernah kan bilang sayang pada ibumu?

Coba! Kapan terakhir kali kau bilang sayang pada ibumu?”

“aku tak tahu,ndre. Aku lupa. Sepertinya sudah lama sekali.”

“maka dari itu,vick. Segeralah katakan itu pada ibumu !”

“hmm... entahlah. Tapi aku akan mencoba. Hehe...”

Vicky pun tersenyum, yang kemudian dibalas senyum pula dari Andre.

Ooo000ooo

Semalaman ini Vicky mengurung diri di kamarnya. Dia hanya berdiri di depan cermin lemarinya. Ia mencoba merangkai kata yang nantinya akan ia lontarkan pada ibunya. Begitu sulit, karena gengsi dan malu menyelubungi ia. Tapi ia harus mencoba, ia ingin melihat ibunya bangga padanya.

“ma, happy mother’s day ya! Vicky nggak bisa ngasih apa-apa. Ah.... tidak.... tidak..... bukan begitu.” Ucap Vicky untuk yang kesekian kalinya.

“mama, Vicky Cuma mau bilang, Vicky sayang sama mama. Selamat hari ibu ya, ma. Uuuhhh... jangan begitu.”

Vicky masih tetap berdiri cermin. Seuntai demi seuntai kata ia lontarkan, namun tak ada yang sesuai menurutnya. Hingga akhirnya...

“mama, selamat hari ibu ya! Vicky nggak bisa ngasih apa-apa pada mama. Tapi yang jelas Vicky sayang mama. Ya... itu...!!! kurasa itu saja.”

Vicky pun memutuskan rangkaian kata yang akan ia uraikan besok. Kini, ia pun mulai memejamkan mata untuk menunggu hari esok tiba.

Ooo000ooo

Tanpa disadari, ibu Vicky pun ternyata akan menberi kejutan untuk Vicky. Pagi-pagi sekali, ia sudah di dapur untuk membuat sarapan. Tak biasanya ia seperti ini. Tapi satu hal yang ada di benaknya, di hari-hari terakhirnya ini ia ingin lebih dekat dengan anaknya. Maka dari itu, mulai hari ini ia tak akan berangkat bekerja.

“aku harus meluangkan waktu untuk anakku.” Ungkapnya mantap dalam hati.

“yeaah... untuk awalnya,nanti aku akan bilang bahwa aku benar-benar sayang padanya, anakku satu-satunya.”

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya sarapan pun siap.

“Vicky, kemarilah..!! sarapan sudah siap.”

Pemuda yang sudah berseragam lengkap itupun turun dari kamarnya.

“mama, mau ikut sarapan? Tumben...” ungkap Vicky dalam hati.

“yeah... mama sengaja buatkan sarapan untukmu.”

“iya ma.” Vicky pun duduk dan mulai melahap sarapannya. Sementara ibunya duduk persis di depannya. Selama berada di meja makan, mereka hanya berdiam seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut masing-masing. walaupun sebenarnya dalam hati mereka berkecambuk kata-kata yang ingin mereka ungkapkan selama ini, kata-kata yang menunjukkan bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi. Namun semua itu sangat sulit diserukan oleh mereka. Rasa gengsi dan malu yang beradu seru menutupinya dengan begitu rapat.

“Ma...?” / “Vick...?” Tiba-tiba secara bersamaan mereka bersuara.

“Ya, mau ngomong apa...?” Sahut Vicky.

“Tidak... Tidak... Mama tidak mau ngomong apa-apa kok. Kamu tadi mau ngomong apa?” Tiba-tiba untaian kata yang semula akan ibu Vicky ungkapkanpun terhenti.

“Tidak apa-apa, Ma. Ya sudah aku berangkat sekolah ya, Ma”.

Vickypun mulai berangkat dan semuapun berlalu.

Ooo000ooo

Bel pulang sudah berbunyi, semua anakpun sudah meninggalkan kelas tidak pada Vicky dan Andre. Mereka malah masih duduk-duduk di kelas mereka.

“Apa kau sudah bilang Ibumu, Vick ?” Tanya Andre tenang.

“Belum, Ndre.”

“Kenapa belum?, cepatlah kau katakan, Vick!”

“Ya, tapi...ini berat sekali bagiku untuk mengungkapkannya. Tadi pagi sih aku hampir bilang sama Mama, tapi tak jadi. Entah mengapa aku merasa malu.”

“Oh ya...Lewat telfon saja! Coba kamu telfon ibumu sekarang!”

“Baiklah” Kemudian Vicky mengambil hand kata “Mama” dalam kontak hp itu. Namun setelah ketemu, Ia hanya memandanginya saja. Tiba-tiba terfikir olehnya untuk mengurungkan niat.

“Andre,Tak usah ah. Aku malu, aku tak berani...”.

“Vicky, kalau tak sekarang kapan lagi? Hanya sekarang waktu yang tepat. Cukup katakana ‘Mama, Happy Mother’s Day ya. Aku sayang mama’, gampangkan?”

“Tapi, Ndre... “

“Ayolah...Aku akan membantumu nanti”. Vickypun kembali memandangi hand phonenya dan mencoba menelfon ibunya. Namun tiba-tiba...

“Ndreeeettttt...”

“Ada telfon!!!” Serunya.

“Dari siapa?” Kata Andre penasaran.

“Dari Mama!!!” Vickypun tak sabar mengangkat panggilan itu.

“Halo...Ma” Sapa Vicky senang.

“Vicky, ada yang mau mama omongin, Nak” Saut ibu Vicky.

“Vicky juga ma. Vicky mau ngomong sesuatu sama mama”

“Ya. Tapi tak bisa disini. Sekarang kita ketemuan saja ya.”

“Mama sekarang ada dimana?”

“Mama sedang ada dirumah, Vick. Kamu kesini ya!”

“Ya, Ma. Eh...mama tidak kerja?”

“Ti...Tidak, Vick. Aduuuhhhh.... Auuuhhhh....”

“Mama kenapa? Ma...!!!. Mama...!!!”

“tuuuuttt.....” tiba-tiba telfon terputus.”Bagaimana, Vick?” Tanya Andre penasaran.

“Aku tidak tau. Ayo ikut denganku...” ucap Vicky sambil menarik tangan Andre.

“Tunggu...Kita mau kemana?”

“Kerumehku. Ayo cepat!!”

Ooo000ooo

Setelah tiba di rumah, Vicky pun langsung menggebrak pintu masuk rumahnya.

“Ma..!! Mama..!!” Teriaknya didalam rumah dengan penuh kekhawatiran.

“Mama...!!! Mama dimana..??” sambungnya sambil terus mencari ibunya. Beberapa saat kemudian Andre datang dan menyusul Vicky.

“Ada apa sih, Vick?” Andre semakin penasaran.

“Emmmmm....Mamaku tak ada” Kata Vicky putus asa. Namun tiba-tiba pembantunya menghampiri ia.

“Mama dimana, Bi?” Seru Vicky pelan.

“Tadi nyonya dibawa ke rumah -tiba ia kesakitan dan pingsan.”

“Apa!!!” Vicky tersentak kaget. Tanpa berfikir panjang,Vickypun langsung menyalakan motornya. dengan terburu-buru, Vicky menelusuri jalan menuju rumah sakit. Sementara Andre hanya mengikuti Vicky dibelakang.

Vicky benar0benar khawatir dengan ibunya. Ia ingin segera sampai ke rumah sakit. Ia pun mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Hingga akhirnya...

“Breeeessstttt.....!!!!!” kecelakaanpun tak bisa dihindarinya. Kini ia hanya terkapar tak berdaya di aspal. Pandangannya berkunang-kunang. Semua orang terlihat mengerubunginya, termasuk Andre.

“Vicky!!!! Ya ampuuun...lihat keadaanmu.”seru Andre dengan penuh keprihatinan.

“An... Andre... Bisakah kau membantuku?” Ucap Vicky dalam ketakberdayaannya.

“Tentu saja, Vicky. Apa yang bisa ku lakukan untukmu.?”

“Tolong donorkan ginjalku pada ibuku sebagai kado hari ibu untuknya, dan sampaikan padanya, aku sangat menyayanginya.”

Tiba-tiba Vicky tak sadarkan diri.

“Vicky...!!! Bangun Vick...!!! Sadar...!!!” Teriak Andre histeris.

“Cepat!!! Panggil ambulance..!!!” Sambungnya.

Ooo000ooo

Esoknya, pagi-pagi sekali Andre sudah berada di kamar tempat ibuu Vicky menginap di rumah sakit. Semalaman ia menunggu di sana. Menunggu kesadaran ibu Vicky. Dan tiba-tiba ia melihat ibu Vicky membuka matanya perlahan.

“Tante... Anda sudah sadar??” Seru Andre senang.

“Dimana Vicky? Aku harus menemui Vicky. Dimana? Aku harus di rumah..!!!” Ucap ibu Vicky panic.

“Tenang Tante..!!! Anda tak boleh banyak bergerak. Anda baru baru beroperasi.”

“Operasi??? Operasi apa??” Ucap Ibu Vicky mulai agak tenang.

“Operasi ginjal, Tante.”

“Ginjal??? Memangnya siapa yang mau mendonorkan ginjal untukku?”

“Hmmm... Vick... Vicky, Tante.”

“Apa??? Vicky??? Dimana ia sekarang?”

“Emmm... Vicky sudah me... meninggal, Tante.” Ucap Andre dengan begitu berat hati.

“Apa...!!! Kamu pasti bercanda kan?” Ucap ibu Vicky disertai air mata yang mulai memecah dari kedua matanya.

“Tidak tante. Kemarin ia kecelakaan saat mencoba menemui Tante. Dan di akhir usianya itu, ia berpesan padaku untuk mendonorkan ginjalnya pada tante sebagai kado hari ibu. Dan ia juga bilang bahwa ia sangat menyayangi tante.”

“A... Apa?” Air mata semakin deras membanjiri kedua pipi ibu Vicky. Ia benar-benar tak menyangka, ternyata anaknya sampai melakukan itu demi ia. Ia benar-benar menyesal, karena ia tak sempat mengucapkan bahwa ia benar-benar menyayangi anaknya.

OOO000OOO

4 comments:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Google+ Followers

Follow Me

Translate

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com