Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Tuesday, January 5, 2010

Psikopat


Namaku Dion,cowok 18 tahun yang selama ini tak pernah diperhatikan oleh orangtuaku. Sudah 3 hari ini aku dikeluarkan dari sekolahku, 3 hari pula aku dikurung dikamar oleh orangtuaku. Semua ini gara-gara Sherin,cewek yang selama ini aku taksiri. 

Siang itu ku ajak paksa Sherin ke mobilku. tak ada yang tahu tentang itu karena saat aku melakukannya, sekolah sudah sepi. semua anak sudah pulang ke rumahnya masing-masing. 

"Dion ! hentiin mobilnya ! biarin aku turun dong !" teriak Sherin di dalam mobil. 
"Aku nggak akan nglepasin kamu sebelum kamu terima cintaku." Jawabku. 
"Aku sudah bilang kan dari kemarin. Aku nggak suka sama kamu. Jadi, biarin aku pergi sekarang !" 

Namun aku tak memperhatikannya,dan aku pun malah mempercepat laju mobilku. 

"dion !! aku nggak suka sama kamu. cowok aneh !!". 
"diam. !!" bentakku. 
"aku nggak mau diam kalo kamu nggank ngelepasin aku !" 

dan 'plerkkk. . !!!' ku daratkan kepalan tanganku ke wajahnya yang mulus, hingga iapun tak sadarkan diri. beberapa jam kemudian, akhirnya Sherin siuman dan disadarinya ia tengah terikat di kursi coklat yang sudah usang. 

"akhirnya kau sadar juga,cantik." sambutku sambil menyentuh dagu sherin. 
"ukh. . aku dimana sih,dion? kenapa aku diikat seperti ini?".
"tenang,sayang. kau aman di kamarku."
"kau kenapa sih,dion? aneh. !"
"sherin sayang. tenang dong. kita belum bermain-main kan?" ucapku sambil memandang tubuhnya yang mungil dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"apa yang akan kau lakukan,dion? awas ya ! aku akan teriak !" kata sherin penuh ketakutan.
"silahkan teriak ! nggak akan ada yang denger kamu. kau tau kan? aku tinggal sendiri di rumah. orangtuaku tak pernah ada karena sibuk ngurusin pekerjaannya." jawabku datar. 
"aku benci kamu,dion !!!"
"heh...aku nggak terima kamu ngomong gitu...!!" bentakku sambil menjambak rambut sherin erat. 
"ughh... kau itu aneh ! gila ! aku nggak akan pernah suka sama kamu !"

dan aku pun langsung menarik rambutnya hingga rambut itu berpindah dalam genggaman tanganku.

"auughh...!!" sherin hanya dapat meraung kesakitan seiring meneteskan air matanya perlahan. "ka.. kau kenapa,dion? kenapa kau lakukan ini padaku? apa sih maumu?"
"aku hanya mau mendengar kalo kau mencintaiku !"
"tapi aku tak mencintaimu,dion. aku tak mencintaimu." hatiku langsung membara. tanpa berfikir panjang,aku langsung mengambil pisau di sakuku, dan

'jressstt...!!!' telinga kanan sherin terlepas dari tempatnya. darah pun mengucur deras. Membanjiri paras wajahnya yang cantik. 

"aaaagghh...!!! hiks...hiks...hiks... di.. dion... baiklah,aku mencintaimu dion..."
"aku tak butuh kata itu lagi !!!" sentakku sambil melempar pisau yang kupegang itu ke paha kiri sherin. "auugggh...!!! uuugghh..!! hiks..." sherin semakin meronta kesakitan. kini,darah pun membasahi rok abu-abunya.
"aku mencintaimu,dion... aku mencintaimu..!"
"Diam..!!!" bentakku.

Sementara sherin menangis, ku tarik pisau yang menancap di pahanya itu. perlahan dan perlahan.

"arggght...!!agghhhh...!! plis,dion. bunuh saja aku...!hiks..."
"ku bilang diaamm..!!!" bentakku sambil melempar gelas yang berada d sampingku ke kepalanya. 'pyarkkk...!!' gelas itu pun pecah, hingga serpihan-serpihanya menancap di setiap kulit wajah sherin. "aaaaaagghhtt...!! dion... bunuh aku,dion ! langsung saja bunuh aku. aku nggak sanggup seperti ini lagi.. hiks..hiks..!" ucap sherin lemah. 

Namun ku tak pedulikan ucapannya. ku ambil lem besi yang berada di meja belajarku. ku oleskan lem itu pada bibir sherin. hingga sherin pun tak bisa berkata-kata lagi. 

"kau tahu,cantik? apa yang slama ini ku inginkan darimu? aku ingin aku selalu ada dalam fikiranmu ! ku ingin hanya ada aku..!!!" dan perlahan ku goreskan pisau yang baru ku cabut dari paha sherin itu ke dahinya. perlahan tapi pasti, hingga terukirlah sebuah nama di dahinya itu, "DION". 

"mmm... mm...." sherin mencoba meraung, tapi ia tak bisa membuka mulutnya. sementara kini darah mengalir dari dahinya. mengalir hingga menutupi matanya. sherin pun mengerutkan matanya berulang kali, mecoba menghalau darah yang mengalir itu. 

"ouhh... kasihan sekali sherinku yang manis. Biar ku bantu."

'jlekkk..!!!' ku congkel mata kiri sherin dengan pisau yang ku pegang ini. bola mata itu terjatuh di lantai, membuat lantai kamarku semakin penuh dengan ceceran darah. kini sherin begitu lemas. tubuhnya mulai dingin. ia hanya bisa pasrah dan berharap ia segera mati.

"hahaha... darah..! darah..! aku suka darah..!", ku usapkan darah yang menempel di pisau itu ke wajahku.dan entah kenapa,aku merasa begitu nikmat dengan darah itu. ku ingin darah itu lagi, dan

'jleppp....!!!' pisau yang berlumuran darah itu menancap persis di jantung sherin. membuat ia mati seketika itu juga. darah pun semakin deras mengalir. membuatku merasa terbang, nyaman, dan ough...benar-benar hidup. tapi... itu semua 3 hari yang lalu. ku butuh darah lagi. aku butuh sekarang juga !!! lalu ku tatap foto berbingkai di kamarku. terpapar gambar dua orang yang sebentar lagi akan membawaku ke rumah sakit jiwa. dan akhirnya aku tahu pada siapa aku bisa mendapatkan darah itu. ya, orang yang selama ini tak pernah peduli padaku.

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Google+ Followers

Follow Me

Translate

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com