Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Sunday, January 29, 2012

EMPAT PULUH HARI

Hari ke-1
Briyan: “Haa!!! Siapa kau?”
Reva: “Jangan banyak bergerak. Kau masih sakit. Berbaringlah dulu.”
Briyan: “Tapi kamu siapa?”
Reva: “Aku gadis yang bertabrakan denganmu tadi. Maaf telah membuatmu seperti ini.”
Briyan: “Oh, jadi kamu pengendara mobil tadi? Lihat! Gara-gara kamu aku tak bisa berjalan lagi! Kakiku pincang sekarang!”
Reva: “Maafkan aku!”
Hari ke-2
Briyan: “Kenapa semua orang tak bisa melihatmu?
Reva: “Sebenarnya aku sudah meninggal waktu kecelakaan denganmu kemarin.
Hari ke-4
Briyan: “Kenapa sih kau tak pergi dari sini?
Reva: “Aku tak akan pergi sebelum empat puluh hari.
Briyan: “Tapi aku lebih suka kau tak di sini! Gara-gara kamu semua orang bisa menganggapku gila karena berbicara dengan arwah gentayangan sepertimu!”
Hari ke-6
Reva: “Kau terlihat senang sekali hari ini. Ada apa?
Briyan: “Ya, tentu saja. Aku sudah bsa pulang ke rumah besok. Jadi aku tak perlu berlama-lama di rumah sakit ini bersama arwah bodoh sepertimu!”
Hari ke-7
Briyan: “Kenapa kau masih saja mengikutiku? Pergilah!!!”
Reva: “Aku ingin membantumu. Bolehkah aku mendorong kursi rodamu ini?”
Briyan: “Tak perlu! Jangan ikuti aku! Aku akan pulang ke rumah sekarang!”
Hari ke-8
Briyan: “Hei!!! Kenapa kau ada di kamarku?”
Reva: “aku tak tahu harus pergi kemana?”
Briyan: “Pergilah! Jangan ganggu aku! Dasar arwah bodoh!”
Reva: “Tapi cuma kamu yang bisa melihatku. Ku mohon! Izinkan aku bersamamu selama empat puluh hari saja.”

Hari ke-10
Briyan: “Jangan ikuti aku, arwah bodoh! Aku mau ke kamar mandi!”
Reva: “Ouh.. maaf!”
Hari ke-12
Briyan: “Bisakah kau pergi sebentar saja! Aku tak bisa tidur kalau kau terus-terusan berada di depanku seperti ini!”
Reva: “Aku kan Cuma diam saja? Tapi, baiklah. Aku menyingkir dulu.”
Hari ke-15
Reva: “Besok kau mulai bisa sekolah lagi kan? Kau pasti senang sekarang.
Briyan: “Entahlah. Aku malah khawatir. Aku takut semua orang akan menjauhiku karena keadaanku yang seperti sekarang ini.
Reva: “Sudahlah! Jangan pesimis begitu. Aku boleh kan ikut denganmu besok?”
Briyan: “Tak perlu! Dasar arwah bodoh! Di sini saja kau sudah sangat mengangguku. Apalagi di sekolah nanti.”
Hari ke-18
Reva: “Kenapa kau tampak sangat sedih sekarang? Bagaimana sekolahmu tadi?”
Briyan: “Tadi aku diputuskan pacarku. Mungkin dia malu punya pacar yang pincang sepertiku.”
Reva: “Sudahlah! Itu berarti dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Lupakan saja!”
Hari ke-20
Reva: “Hei!!! Bangun tukang tidur! Hari ini kau sekolah kan?”
Briyan: “Iya.. iya.. sebentar lagi!”
Reva: “Cepatlah! Kau bisa terlambat nanti, briyan!”
Briyan: “Iya, arwah bodoh! Cerewet kau!”
Hari ke-22
Reva: “Di sini kau rupanya. Sedang apa kau sendirian di gudang sekolah?”
Briyan: “PERGII KAU!!!”
Reva: “Bri… Briyan? Kamu menangis? Ada apa?”
Briyan: “Semua ini gara-gara kamu! Kemarin aku diputuskan pacarku dan sekarang aku dikeluarkan dari tim basket sekolah. Semua temanku menjauhiku. Aku bukan siapa-siapa lagi sekarang!”
Reva: “Maafkan aku! Andai aku bisa membantumu.”
Briyan: “Pergi kau! Dasar arwah bodoh! Kenapa aku harus bertemu denganmu? Gara-gara kamu aku pincang seperti ini. Sekarang semuanya telah hancur! Dan itu gara-gara kamu! Kenapa aku harus bertabrakan denganmu? Huh! Hidup ini memang tak adil.”
Reva: “Briyan.. tenanglah! Kau masih beruntung, Briyan. Kamu hanya pincang. Sedangkan aku, kau tahu kan? Aku tak akan pernah merasakan kehidupan lagi. Aku sudah mati!”
Briyan: “Lebih baik aku mati! Dari pada hidup seperti ini! Tak ada gunanya lagi aku hidup!!”
Reva: “Apa yang kau katakan? Jangan seperti itu, Briyan?”
Briyan: “AHH.. PERGI KAU!”
Hari ke-23
Briyan: “Kemana saja kau? aku mencari-carimu. Maafkan aku ya soal kemarin itu?”
Reva: “Aku pikir kau akan senang jika aku pergi.
Briyan: “Maafkan aku.”
Reva: “Ya sudah. Tak perlu dipikirkan.”
Briyan: “Oh, iya. Namamu siapa?”
Reva: “Namaku Reva. Kenapa memangnya? aku lebih suka kau panggil ‘arwah bodoh’”.
Briyan: “Haha.. dasar arwah bodoh!”
Reva: “Hahaha.. aku senang melihatmu tertawa.”
Hari ke-25
Reva: “Rupanya dulu kau nakal juga ya? Sering bolos sekolah, sering dihukum guru, suka menindas temanmu yang lemah. Kau terlalu sombong dengan kepopuleranmu sebagai bintang basket sekolah. Pantas saja kau tak punya teman sekarang.”
Briyan: “Memangnya kenapa?”
Reva: “Itu tak baik, Briyan. Cobalah untuk berubah!”
Hari ke-27
Reva: “Ku rasa kau harus berjalan berjalan. Cobalah untuk berdiri. Aku akan membantumu!”
Briyan: “Aku tak yakin aku bisa.”
Reva: “Kau tak pernah tahu sebelum kau mencoba!”
Hari ke-28
Reva: “Hei! Kenapa kau diam saja? Apa yang kamu pikirkan?”
Briyan: “Aku teringat mantan pacarku.”
Reva: “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin masih banyak yang mau denganmu.
Briyan: “Kalau denganmu bagaimana?”
Reva: “Hahaha.. sudahlah! Jangan bercanda.”
Hari ke-30
Briyan: “Kenapa kau bisa ke surga?”
Reva: “Kau tahu kan? aku mati karena kecelakaan. Arwahku belum bisa diterima. Aku akan tinggal dulu di dunia ini selama empat puluh hari”
Hari ke-32
Briyan: “Uh! Malam minggu yang membosankan! Aku bosan di rumah. Reva, maukah kau menemaniku keluar?”
Reva: “Kemana?”
Briyan: “Melihat bintang di luar sana.”
Reva: “Baiklah.”
Hari ke-34
Briyan: “Waktu kamu masih hidup, kamu kelas berapa?”
Reva: “Kelas dua SMA. Sama sepertimu.”
Hari ke-35
Briyan: “Lihatlah aku sudah bisa berdiri sekarang.”
Reva: “Baguslah! Sekarang cobalah melangkahkan kakimu. Aku akan memegangimu.”
Hari ke-36
Briyan: “Bisakah kau mengajariku tentang pelajaran ini? Aku tak begitu mengerti dengan ini.”
Reva: “Tentu saja! Tumben kamu mau belajar?”
Briyan: “Semua ini juga karenamu. Terimakasih telah menasihatiku selama ini. Mulai sekarang aku akan berubah.”
Reva: “Baguslah. Ya sudah, mana yang isa ku bantu?”
Hari ke-38
Reva: “Ternyata kau suka nonton film juga ya?”
Briyan: “Tentu saja. Memangnya kau juga suka?”
Reva: “Suka sekali.”
Briyan: “Kalau begitu, lain kali akan ku ajak kau nonton ke bioskop.”
Hari ke-39
Briyan: “Kenapa warnamu mulai memudar?”
Reva: “Sekarang hari ke-39. Besok aku sudah akan pergi.”
Briyan: “Benarkah? Kenapa begitu cepat?”
Hari ke-40
Pukul 07.00
Briyan: “Lihatlah, rev! aku sudah bisa berjalan sekarang! Haha.. lihat!!! Aku juga bisa melompat! Lihatlah, Rev! haha…”
Reva: “Ha… iya… aku ikut senang,yan!”
Briyan: “Terimakasih, Rev! selama ini kau sudah membantuku berlatih berjalan.”
Reva: “Ya, aku senang bisa membantumu.”
Pukul 14.00
Reva: “Kenapa kau murung?”
Briyan: “Kau yakin akan pergi hari ini?”
Reva: “Ya, ku rasa begitu. Hari ini tepat hari ke-40.”
Pukul 20.00
Briyan: “Tubuhmu semakin memudar, Rev!”
Reva: “Mungkin sebentar lagi aku akan menghilang. Jadi, tak akan ada lagi yang mengikuti kemanapu kau pergi. Tak akan ada lagi arwah bodoh yang mengganggumu. Kau bisa tenang sekarang, Yan.”
Briyan: “Dasar arwah bodoh! Kau pikir aku akan tenang kalau kau pergi?”
Reva: “Bukankah selama ini aku telah merepotkanmu?”
Briyan: “Uh! Kau memang tak pernah bisa mengerti.”
Reva: “Mengert apa?”
Briyan: “Jika kau pergi, tak akan ada lagi yag membangunkanku waktu pagi, tak kan ada lagi yang menasihatiku, tak kan ada lagi yang memperhatikanku, tak ada lagi arwah bodoh yang bisa mengubahku menjadi seperti sekarang ini.”
Pukul 22.00
Briyan: “Aku tak mau kehilanganmu, Rev!”
Reva: “Jika aku bisa memilih. Aku juga tak mau pergi darimu, yan!”
Briyan: “Apa tak bisa lebih lama lagi? Ku mohon. Tinggallah beberapa hari lagi di sini.”
Reva: “Andai aku bisa, Yan. Aku juga ingin tetap di sini. Tapi aku tak bisa, aku harus pergi.”
Briyan: “Aku tak ingin kau pergi, Rev! bahkan aku belum mengajakmu nonton ke bioskop kan?”
Reva: “Maafkan aku.”
Pukul 23.00
Briyan: “Tuhan, kenapa kau pertemukan kami bila akhirnya kau akan memisahkan kami?”
Reva: “Jangan sesali pertemuan kita, Yan. Mungkin Tuhan ada maksug lain dengan semua ini.”
Briyan: “Aku tak akan pernah menyesal bertemu denganmu, Rev! walaupun Cuma 40 hari kita bersama, tapi kau telah memberiku berjuta arti kehidupan.”
Pukul 23.30
Reva: “Maukah kau menemaniku keluar, Yan? Aku ingin melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamamu.”
Briyan: “Tentu saja!”
Pukul 23.45
Reva: “Kau lihat bintang yang paling terang itu?”
Briyan: “Ya, aku melihatnya.”
Reva: “Jika nanti kau rindukan aku, lihatlah bintang itu. Karena kau akan ada di sana.”
Pukul 23.45
Briyan: “Ouh! Kenapa? Kau mulau menghilang rev! tidaaakkk…!!! Kau… oh.. kakimu… tanganmu… Revaaa!!!!”
Reva: “Selamat tinggal, Yan!”
Pukul 23.59
Briyan: “I love you, Reva!”
Reva: “I love you too”

9 comments:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

Hi.. I am Fifa.
I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all i can be
To travel roads not taken, to meet faces unknown
To feel the wind, to touch the star
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com