Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Thursday, September 26, 2013

Buku Benteng dari Mak’e untuk si Pemimpin Kecil

“Mak’e”, begitulah aku memanggilnya. Mak’e adalah sosok ibu yang rela melakukan apa saja untuk kebaikan anak-anaknya. Saat umurku lima tahun, Ayahku berpulang dan sejak itulah Mak’e seorang diri bekerja untuk keluarga. Sawah adalah ladang Mak’e mencari uang. Tak begitu banyak mungkin gaji yang didapat, tapi Mak’e telah membuktikan bahwa uang bukan patokan untuk bisa menciptakan si pemimpin kecilnya. 

Oh ya, akulah si pemimpin kecil itu. Namaku “Fifa”, umurku dua puluh tahun, dan kini aku sedang pertukaran pelajar di Korea Selatan. Bukan hal yang mudah memang, mengingat kami bukan berasal dari kalangan yang serba berkecukupan. Tapi nasihat Mak’e tentang uang yang bukan segala-galanya membuatku bertekad bahwa apa yang aku impikan tak boleh terhenti hanya karena uang. Dan yah, sampailah aku di sini. 

Sejak kecil Mak’e mengajariku tentang pentingnya belajar. Meski dalam keadaan sulit pun Mak’e selalu punya cara untuk membuatku belajar. Aku jadi teringat suatu kisah sewaktu aku kecil. Sebuah pengalaman yang lucu, tapi penuh haru. Tentang betapa berperannya Mak’e hingga akhirnya sekarang aku bisa seperti ini, Mak’e yang saat itu tidak bisa memenuhi permintaan anak kecilnya untuk masuk Taman Kanak-Kanak tapi bisa mendidik anaknya menjadi pemimpin kecil kebanggaan. 

“Mak! Sinok pengen masuk TK kayak anak-anak lain!” ucapku saat berumur empat tahun. Mungkin ini terdengar terlalu dewasa untuk anak sesusiaku saat itu. Tapi ku rasa tidak, karena sebenarnya alasanku saat itu hanya karena aku iri ketika melihat teman-teman sebayaku sepulang dari TK membawa karangan origami atau play-doh. Hanya itu, dan tak terlintas di benakku sedikitpun karena ingin belajar. 

“Nok, itu Mak’e bawain buku Benteng!”, dan Mak’e malah membelikanku buku tulis merk “Benteng” berharga dua ratus rupiah. Aku tak mengerti sama sekali untuk apa ini? Kenapa Mak’e membelikan ini? Dan apa yang bisa ku lakukan dengan ini? Pertanyaan-pertanyaan luguku muncul begitu saja hingga akhirnya buku ini malah menjadi mainan favoritku. Berawal dengan mencoret-coret buku Benteng ini dengan gambar-gambar benang ruwet kemudian berlanjut dengan huruf A, B, C, sampai Z. Akhirnya aku malah begitu nyilek dan lupa tentang keinginanku untuk masuk TK. 

Aku akui Mak’e bukan orang yang berpendidikan. SD pun beliau tidak tamat. Tapi Mak’e tahu sekali bagaimana harus mendidikku. Walaupun Mak’e tidak begitu mahir, beliau tetap berusaha mengajariku tentang apa itu alphabet, bagaimana membaca, dan bagaimana menulis, yang tentunya dengan buku Benteng yang Mak’e belikan itu. 

Aku tahu Mak’e sedang dalam masa-masa sulit saat itu dan tidak bisa membawaku ke sekolah TK karena tidak ada uang. Sakit ayahku juga sedang parah-parahnya saat itu sedangkan Mak’e harus menanggung hidupku, kakak, dan buyut. Tapi walau begitu Mak’e tetap mampu mendidik anaknya menjadi pemimpin kecil yang membanggakan dengan caranya yang unik itu. 

Dan terbukti. Ketika aku sudah masuk SD, walau sebelumnya aku tidak masuk TK, walau sebelumnya aku hanya belajar seadanya dengan Mak’e, walau sebelumnya aku hanya bermodal buku Benteng, tapi pertama kali pembagian raport kelas satu, aku langsung mendapat peringkat satu. Dan akhirnya ini pun menjadi motivasiku untuk terus mempertahankan prestasi. 

Sekian cerita pengalamanku. Yang jelas Mak’e berperan besar sekali di hidupku. Ma'e adalah motivasiku. Maturnuwun Mak’e. Maturnuwun juga untuk Nutrisi untuk Bangsa yang sudah memberi kesempatan untuk menulis ini. Tulisan ini dilombakan untuk :


Read More

Saturday, September 14, 2013

Me Vs. Korean Food

Waktu itu pertama kali aku sampe di bandara Incheon dan yang pertama aku lakukan adalah membuka koperku, ada roti yang sebelumnya disisipkan Simbah. kenyang? aku rasa tidak. Akhirnya sambil menahan lapar aku pun duduk bersama mbak Mariska menunggu jemputan dari Kwandong. Sedikit nahan ngiler karena aku duduk di depan restoran yang entah-apa-namanya. Baunya menyerbak, menusuk hingga ke kerongkongan kemudian ke lambung, usus halus, dan usus besar. Sedap sekali. aku coba melihat harganya dan ini berkisar antara 7000-9000. Yah, kalau dalam rupiah mungkin ini harga standar, tapi hey! ini Won. and you know what? karena rupiah sedang anjlok-anjloknya jika di-kurskan ini akan berkisar 80.000-100.000. So? tak perlu aku jawab.

Pukul 13.00 waktu Korea bagian... Mmmm.. ya bagian Korea, jemputan dari Kwandong datang dan aku bertemu Mr. entah-siapa-namanya. Akhirnya dia mentraktir di restoran yang dari tadi menggoda imanku itu. SStttt.. dia mirip banget sama boyband!!! dan emang semua orang korea mukanya.. eh apa ini? Sepertinya aku keluar tema. Harap diperhatikan. Kali ini aku akan bicara tentang food, bukan people. lain kali aku buat post khusus tentang itu.

Aku memilih sejenis mie-mie-an gitu. Aku lupa namanya. Kalau tidak salah "champong buto"

Makanan pertamaku di Korea
Awalnya aku kira ini sebelas duabelas dengan mie ayam indonesia. But, jangankan sebelas duabelas, sebelas duajuta pun ku rasa masih terlalu dekat.  Rasanya kecut banget, kayak ketek badak gitu. Udah gitu mie-nya seperti hidup dan menggeliat-geliat di mulutku. Oh  why? ini makanan korea pertamaku dan rasanya seperti ini?

"You don't like spicy?" kata Mr. entah-siapa-namanya yang mirip boyband itu.

What? spicy dari mananya? Ini itu kecut banget. dan asal tau saja, aku suka yang spicy-spicy macam mie ayam indonesia bukan mie cacing campur keringat ketek badak. Mendadak aku seperti mau pulang ke indonesia dan ngambil mie lidi sebanyak-banyaknya. terus aku tunjukin, ini baru yang namanya spicy.

About daily food, di sini udah sepaket sama dormitory. jadi ada jam khususnya buat breakfast, lunch, dan dinner gitu. Beda sama mbak Mariska, entah kenapa lidahku ga cocok banget sama makanan Korea, dan sebenarnya aku masih bingung. kenapa aku di Korea? sedang apa aku di sini? Ah..

Setiap kali mau masuk cafetaria tempat aku makan, aku selalu berdoa semoga makanan kali ini layak makan. Oh ya, aku juga harus pilih-pilih makanan di sini. Untungnya pelayan sudah mengerti sendiri. mungkin karena aku memakai jilbab.

Dan di sini selalu tersedia yang namanya Kim-chi, mungkin para K-pop / K-drama fans tau ini. semacam khas-nya Korea gitu. dan jujur aku baru tau setelah aku sampai di sini. karena warnanya yang semacam merah-merah gitu awalnya aku kira ini berasa pedas. It's okey, ku rasa ini akan mengingatkanku pada makanan indonesia yang khas dengan pedasnya. tapi setelah aku cicipi. OMG! lagi-lagi kecut banget. Aku lepehkan lagi. Maaf.

Dan temanku dari China yang sudah lama tinggal di sini pun bilang, "You don't like spicy?"

Sejak itu aku menyimpulkan bahwa kecut di lidah orang Indonesia sama dengan pedas di lidah orang Korea. Semakin Kecut bagi kita, semakin pedas bagi mereka. Dan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kalau mereka mencoba pedasnya makanan Indonesia, apa yang mereka rasakan? jangan-jangan semacam asin atau mungkin manis. -_-

Lihat yang pojok kiri bawah. Itu semacam rumput yang ditumis -_-
Terus lihat itu yang panjang-panjang. kayak apa gitu.
Soup-nya cuma air tawar dicampur irisan timur, plus garam dikit
Lihat pojok kiri atas. itu semacam bihun dan ada campuran kangkungnya. :D
Berhubung aku ga suka bihun jadi dengan sabar aku pilah-pilah demi dapetin Kangkung
Sumpah! Aku ngidam banget tumis Kangkung
Kayak nasi goreng
dan tauge rebus plus kimchi
Soup-nya cuma telur yang diceplok di penggorengan perebusan

Kalau masalah porsi, di sini itu memang gede banget. Lihat saja di foto-foto di atas. Aku sampai heran kenapa orang Korea makannya banyak tapi tetap kurus-kurus. dan baru-baru ini aku baru sadar itu karena kebanyakan dari mereka selalu jalan kaki dalam berpergian. Orang Korea juga terbiasa untuk minum setelah makanan mereka habis. bahkan ada yang tidak minum sama sekali dan hanya menyeruput kuah sup. Dan sumpah! ini bukan aku banget. Biasanya di beberapa suap makanan aku selalu minum air putih. Jika mengikuti cara Korea yang minum di akhir ini membuatku sering keselek di tengah makan. dan jika harus minum kuah sup, sungguh aku ga doyan. Sup di sini rasanya aneh. Seperti... bekas cucian beras. Belum lagi aku juga harus memakai sumpit yang mana bagiku untuk mengambil 1 butir nasi pun butuh waktu bermenit-menit. Fyuh. Akhirnya aku pun lebih memilih memakan mie instan yang aku bawa dari Indonesia. Yah, jauh-jauh ke Korea ujung-ujungnya makan mie instan lagi. bener-bener anak kosan sejati.

Beberapa pekan di sini aku masih berjuang untuk makan makanan Korea. terkadang aku cuma makan beberapa suap karena lidahku yang tidak cocok. Sebenarnya ini sayang sekali membuang-buang makanan, mengingat dulu di kosan saja makanku cuma nasi dan kerupuk pun aku doyan. Aduh, lidahku. kenapa kau begitu manja di sini? Terkadang aku berpikir, seandainya makanan ini bisa diawetkan maka akan aku bawa pulang ke Indonesia untuk persediaan di kosan nanti. Atau mungkin akan aku jual untuk mereka para fanatic Korea. hahaha

Suatu ketika ada orang Indonesia di sini yang mentraktir aku dan Mbak Mariska makan di luar. Mereka mbak Agnes dan Mas Joni. Aku lupa untuk memfotonya. dan sumpah itu makanan terenak yang aku makan sejak aku tiba di sini. aku lupa namanya, mungkin "Ta ko ki", "Bi Ko ki", "Bi Ki Ni", entahlah. Yang jelas itu semacam gorengan dan siomay plus sausnya. enak sekali. Mbak Agnes dan Mas Joni memang tahu sekali selera orang Indonesia.

Ngomong-ngomong soal enak, pernah di suatu breakfast menu saat itu adalah roti. Dan ohh.. melihat roti saja aku rasanya seperti terbang ke nirwana dengan roti-roti berterbangan di sekitarku beserta efek slow motion-nya. Di tambah lagi ketela rebus yang mengingatkanku pada kampung. Ohhh.. Ohh.. diriku seperti menari-nari di atas menara. di atar menara aku menari.
roti tawar, buah-buahan, ketela rebus, dan keripik jagung
Lezat (y)
But, you know what? setelah diajak terbang tinggi itu dan diajak menari-nari di atas menara, aku kemudian serasa didorong jatuh dari menara yang ketinggiannya bisa jadi 60km. Lunch hari itu menunya daging babi semua, dan alhasil, inilah makananku.

Nasi dan sawi mentah :(
yang merah itu kecut banget ga tau namanya apa 
Ini yang lebih jelas

Dan yang aku lakukan hanya memutar-mutar sumpitku. Aduh, temenku orang China yang saat itu makan bersamaku sampai iba. akhirnya dia memberiku sebungkus roti tawar. Aduh. What a pity I am.

Roti tawar ini menyelamatkan perutku
Waktu berjalan, kemudian aku sadar. Inilah saatnya aku perbaikan gizi. Because this last semester in Undip has taken my fat. I'm so thiny now. Apapun rasanya, aku harus makan. Semoga aku bisa survive!




Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

I want to live my life to the absolute fullest, to open my eyes to be all i can be, to travel roads not taken, to meet faces unknown, to feel the wind, to touch the star
I promise to discover myself, to stand tall with greatness, to chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE

Popular Posts

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com