Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Saturday, October 5, 2013

PATUTKAH ROBOT MENJADI PEMIMPIN MASA DEPAN?


Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang justru menutupinya dari dunia luar. Sementara robot tak lain bagaikan seorang pekerja. Robot dibangun untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan sistem yang dibuat untuknya, melakukan setiap langkah sesuai prosedur dan tuntutan. Robot tidak perlu pilihan, karena dia tidak perlu menentukan keputusan. Robot tidak perlu hati karena dia tidak perlu pertimbangan. Hobi, minat, imajinasi, dan soft skill, robot tidak perlu itu semua karena robot telah terprogram untuk mengikuti sistem, bukan menciptakan sistem.

Indonesia di masa depan tak seharusnya terisi oleh segerombolan robot-robot. Indonesia butuh kita untuk menghapus mimpi buruk itu. Indonesia butuh tangan-tangan terampil yang mampu menciptakan bukan mengikuti dan menerima begitu saja. 

Mirisnya, setelah kita tengok apa yang terjadi pada kita? Kita sebagai mahasiswa memang telah terprogram dalam suatu sistem sebagaimana halnya seorang pekerja. Kita bekerja dalam bentuk belajar. Setiap harinya kita harus bangun di pagi hari hingga bahkan petang untuk melakukan hal yang sama yaitu belajar. Kita tidak dibayar berupa upah gaji, melainkan kita membayar untuk digajikan ke orang lain. Kemudian sebagai upah bayaran yang kita ibaratkan gaji itu adalah nilai yang nantinya tertera pada selembar kertas dengan embel-embel IPK. 

Dalam periode indoktrinasi itu, kita mengejar suatu tujuan akhir yang telah diatur oleh sistem, yaitu “Lulus”. Kita duduk berjam-jam di kelas, mengerjakan tugas, dan bahkan mengambil ekstra SKS untuk memperoleh lembar sertifikasi bertuliskan “Lulus”, yang mana tak pernah kita pikirkan apakah kita membutuhkannya ketika indoktrinasi ini telah kita tinggalkan. 

Lalu, bukankah dengan nilai yang baik berarti ada ilmu yang didapatkan? Ya, kita memperoleh ilmu, namun tidak semua yang kita dapatkan. Kita semacam menghafal tanggal, bulan, dan tahun yang kemudian kita lupakan dan segarkan untuk ujian berikutnya. Mirisnya lagi, kita terlalu menginstankan apa yang kita dapat dalam belajar. Lagi-lagi kita terperangkap dalam doktrin buku teks. 

Lalu, apa bedanya kita dengan robot? Itu tergantung pada diri kita sendiri. Sebenarnya kita punya pilihan yang sayangnya jarang kita gunakan karena terlalu takutnya kita pada sistem. Kita terlalu takut mendalami hobi kita, kita terlalu takut mengasah kelebihan kita, kita takut menciptakan sistem untuk diri kita sendiri, yang semua itu sebenarnya hanya karena ketakutan kita pada apa yang tujuan akhir dari sistem buat. Kita takut sistem mengurangi upah nilai kita atau menjauhkan kita pada lembar kertas bertuliskan “lulus”. 

Jika kita telah rela diperbudak oleh sistem, maka selamanya kita akan hidup dalam perbudakan itu. Hobi, minat, dan soft skill yang seharusnya kita asah dan kembangkan sejak dini akhirnya menyusut dan hilang. Dan indoktrinasi ini hanya akan mengantarkan pada indoktrinasi berikutnya. 

Sempatkah kita berpikir apa yang sebenarnya masa depan butuhkan? Kita adalah manusia, kita punya pilihan, kita adalah pengambil keputusan, kita adalah pemimpin, bukan budak yang malah dipimpin oleh sistem. Indonesia butuh pemimpin yang berani memimpin dirinya sendiri.

4 comments:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

I want to live my life to the absolute fullest, to open my eyes to be all i can be, to travel roads not taken, to meet faces unknown, to feel the wind, to touch the star
I promise to discover myself, to stand tall with greatness, to chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE

Popular Posts

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com