Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Saturday, March 8, 2014

Forbiminas 2014

 “Yang mendapat IP 4 akan mengikuti forum bidikmisi nasional”

Aku jelas sekali melihat itu setahun, ah tidak! Dua tahun yang lalu. Saat aku masih tahun pertama kuliah. Tahun 2011 tepatnya. Aku adalah angkatan kedua bidikmisi diselenggarakan, dan ya! yang jelas mereka yang berada pada angkatan pertama yang dipilih, angkatan 2010. Lagi pula, aku tidak mendapatkan IP 4 saat itu.

Sejak itulah aku termotivasi untuk mendapatkan IP 4. Di tahun kedua, tepatnya di semester 3, aku mendapatkan IP 4. Aku menanti saat-saat itu. Berharap! Semoga aku mengikuti forum bidikmisi nasional tahun itu! Tapi, sungguh! Tak ada kabar sama sekali. Ya, sudahlah! Mungkin tahun itu Undip memilih delegasi lain yang lebih baik dariku.

Setahun berlalu dan tiba-tiba akhir desember 2013 ini aku melihat koordinator bidikmisi angkatanku mengumumkan bahwa akan diadakannya Forum bidikmisi nasional. Aku mulai browsing tentang acara itu. Ternyata memang ini adalah kali keduanya acara ini diselenggarakan. Iya! Memang dua tahun sekali! Luar Biasanya, kali ini akan dihadiri pak SBY! Aku sangat antusias untuk mendaftar. Sayangnya, mereka dengan IP yang terbaiklah yang dipilih. Sedangkan IP-ku, aku mendapat IP nol semester lalu. Iya! Kamu tak salah baca. IP-ku nol semester lalu. Ini karena aku mengikuti pertukaran pelajar, dan sebagai mahasiswa penerima bidikmisi tentu saja aku tidak boleh cuti. Nilaiku semuanya E. Untungnya dengan nilai E, meski IP-ku nol, IPK-ku masih utuh dengan semester sebelumnya, 3.76. Aku pun nekat mendaftar saja, dengan beberapa capaian yang aku cantumkan.

Sekitar seminggu kemudian, dari ribuan mahasiswa penerima bidikmisi di Undip ternyata Undip hanya memilih sebelas mahasiswa untuk menjadi delegasi dalam forbiminas. Alhamdulillah, aku salah satunya! Dan yang paling membuatku takjub lagi, aku terpilih bersama teman-teman yang menurutku sangat luar biasa. Mas Taufik 2010, Mas Arif 2010, Restu 2011, Yando 2011, Vivi 2012, Halimah 2012, Fajar 2012, Rizki 2013, Abdi 2013, dan Riventus 2013. Aku merasa terhormat disandingkan dengan mereka. Oh ya, selain mahasiswa bidikmisi, acara forbiminas ini juga diikuti mahasiswa afirmasi papua. Mereka Dom dan Warai yang terpilih dari Undip. Tak kalah luar biasanya. Aku baru tahu tentang beasiswa Afirmasi Papua ini. Betapa pedulinya Indonesia dengan warga tertinggal sana. Aku bangga.


Sempat terjadi kontra di sini atas terpilihnya sebelas mahasiswa tersebut, terutama pada angkatan 2011, angkatanku. Mereka mengira Bidikmisi terlalu kolot jika hanya mengandalkan mahasiswa yang berorientasi IPK tinggi saja. Tapi sungguh, kami (angkatan 2011 yang kalian mention) bukan hanya bermodal IPK tinggi. Tapi, ya sudahlah. Kami lebih memilih diam hingga akhirnya perdebatan itu berhenti dengan sendirinya.

Kami berangkat tanggal 25 Februari jam 4 sore menggunakan mobil travel. Perasaanku sedikit tidak enak. Banyak yang sebenarnya ingin mengikuti acara ini, tapi tidak terpilih. Aku takut mobil yang kami naiki akan... Ah! Mungkin aku yang terlalu banyak menonton film.

Setelah makan malam, mobil kami menabrak tiang restoran. Hatiku mulai merasa tidak enak. Apalagi ku dengar sopir berbicara di telpon bahwa dia sedang mengantuk sebenarnya. Walapun itu dalam bahasa Jawa, tapi aku mengerti dengan jelas. Sangat mengerti. Dan aku khawatir. Sangat.

Pukul tiga pagi, saat kami semua sedang tertidur tiba-tiba ada guncangan hebat. Aku terlempar ke depan. Tidak begitu keras! Kami semua selamat untungnya. Mobil remuk bagian depan. Kami menabrak truk. Iya! Kami menabrak truk! Hujan juga tiba-tiba turun saat itu. Ah! Kenapa persis dengan acara-acara di film yang aku takutkan sebelumnya.
Kami berhamburan keluar. Berteduh. Kemudian beberapa dari kami pergi ke masjid terdekat. Sepi! Gelap! Sajadah kotor! Ku rasa masjid ini memang jarang dipakai. Sedikit horor juga! SEPERTI DI FILM-FILM!!

-----skip saja momen di sini---

Sekitar pukul 9 pagi, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan mobil yang sudah diperbaiki di bengkel. Masih sedikit khawatir.  Saat di jalan tol, mobil ini tiba-tiba penuh asap. Mogok! Ah! Satu jam lagi acara akan dimulai.

-----skip lagi yaaaaaa---

Kami tiba di hotel yang salah! Kami ketinggalan dua acara pertama yang kalau sesuai jadwal seharusnya adalah pembukaan dan acara motivasi dari tokoh-tokoh hebat seperti Dhalan Iskan, bla bla, dan bla bla. Tunggu! Aku mendengar kabar acara diubah! Iya. Acara motivasi diganti dengan sosialisasi narkotika. Okey! Tak apa aku melewatkan ini.

-----skip lagi yaaaaaa---

Pukul empat sore dari hotel yang salah itu kami berangkat bersama menggunakan bis ke lokasi acara, hotel bidara. Hujan deras. Panitia bahkan minta maaf pada kami. Berikut kira-kira dialog yang terjadi.

Panitia   :
"Kami mohon maaf bis telat menjemput seperti ini. Yang kasihan itu Undip. Sampai salah hotel. Kenapa bisa begitu?"

Kami :
"lha surat yang kami terima hotelnya di sini pak?"


Sopir bis :
"berarti yang salah siapa?"


Panitia :
"kami panitia. Kami minta maaf"


Semua terdiam.

Panitia :
"Sebenarnya sesuai rencana awal semua berangkat sendiri-sendiri sampai ke hotel, tapi kemarin pak mentri pendidikan menyatakan bahwa yang di stasiun dan bandara di jemput saja. Kami pun mengubah semua rencana. Sampai kami tidak tidur. Kami minta maaf."

Semua masih terdiam.

Aku :
(menangis)

Aku duduk di bangku depan bis sendirian waktu itu. Dan jujur saat itu aku menangis. Aku terharu. Betapa negara memanjakan kami. Mereka orang-orang penting begitu menghargai kami. “Ini bukan salah kalian,Tak perlu minta maaf”, hatiku berucap.

Dan kau tahu? Bis yang kami naiki bahkan diiringi oleh polisi. Polisi itu bahkan menyingkirkan kendaraan-kendaraan di depan bis kami yang membuat macet. Ah! Hatiku benar-benar tersentuh. Ini kali kedua aku ke jakarta. Dan yang aku alami saat ini sangat bertolak belakang dengan yang aku alami sebelumnya di kota yang keras ini.

-----skip lagi yaaaaaa---



Hari kedua adalah hari puncak. Silaturahmi mahasiswa bidikmisi dengan pak SBY berlangsung. Banyak stasiun TV yang meliput. Acara juga disiarkan langsung di TVRI. Ini adalah acara terbesar yang aku ikuti selama ini.

Aku pernah bermimpi berfoto dengan Pak Rektor
dan sekarang baru tercapai.
Iya! Mimpiku aneh -_-

Banyak yang harus diceritakan sebenarnya di sini. Mulai dari aku dan rizki yang membuat berisik di mobil, mengerjai teman-teman undip lewat telfon hotel sampai membuat Abdi deg-degan, Rizki yang ternyata ulang tahun, belajar sulap, gratisan, makanan enak, bertemu langsung Fatin X Factor, ngobrol-ngobrol dengan Rektor Undip, sampai salaman dengan Pak Nuh. Tapi aku ambil aha moment-nya saja, yaitu :

  •       Ketika Birrul mahasiswi UGM menyampaikan pidatonya itu, jujur aku menangis. Bukan cuma aku, sekitarku juga. Kami sama-sama mahasiswa bidikmisi. Kami merasakan apa yang dia rasakan. Perjuangannya, mimpinya.. Ah! Dan ku rasa wajar juga pak SBY juga menangis hingga menjadi headline banyak media “SBY menitihkan air mata”. Dan kau tahu? Saat ramah tamah dengan kemendikbud, Pak Nuh mengatakan ini adalah acara kepresidenan pertama yang membuat presiden menangis.

  • .    Semua pasti tahu Pak SBY selalu berpidato dengan gaya yang lambat dan pelan. Jujur, aku selalu mengantuk mendengarkan pidatonya waktu di TV. Tapi saat itu, medengar pidatonya langsung, aku tidak mengantuk sama sekali. Beda rasanya. Berarti pejabat-pejabat yang tertidur saat presiden berpidato itu kebangetan.
Okey! Ku rasa sampai di sini saja ceritanya. Secara keseluruhan, acara ini adalah acara yang luar biasa. Benar-benar membuka mataku. Aku bertemu orang-orang luar biasa juga dari universitas-universitas lain. Orang-orang yang hidupnya juga penuh perjuangan. Orang-orang yang memahami keterbatasan. Orang-orang yang mau bersusah payah untuk mengejar mimpi mereka. Orang-orang yang berani bangkit mengubah garis hidup keluaga mereka. Dan benar jika pak Nuh mengatakan bahwa itu adalah hari kebangkitan kaum duafa. Siapa bilang miskin adalah keturunan? Siapa bilang kaum duafa selamanya akan menjadi kaum duafa?

Aku mengerti sekarang, kenapa ada beberapa pejabat yang tidak memahami rakyat kecil dan bahkan tega mencuri uang mereka untuk kepentingan pribadi. Iya! Mereka tidak merasakan apa yang pernah kami rasakan. Mereka belum pernah merasakan perjuangan keras seperti saat kami mengejar mimpi kami. Tapi, aku yakin. Setelah kebangkitan kaum duafa ini. Indonesia sepenuhnya mulai akan dipimpin oleh orang-orang yang bukan hanya cerdas dan berjiwa pemimpin, tapi juga benar-benar memahami rakyat kecil.

Terimakasih bidikmisi. Kau menjawab mimpi kami!

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

Hi.. I am Fifa.
I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all i can be
To travel roads not taken, to meet faces unknown
To feel the wind, to touch the star
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com