Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Wednesday, March 16, 2016

Antara Mandiri atau Suka Menyendiri

Dulu..  Aku mengagung-agungkan yang namanya kemandirian. Masa kecilku yang selalu ditinggal ibu bekerja karena ayah telah meninggal membuatku terbiasa sendiri.

Bisa melakukan hal sendiri, tidak merepotkan orang lain, bagiku adalah hal yang keren.Thus, kalau kamu membaca blogku, instagramku, status-status facebook-ku, atau apalah.. Kamu akan melihat bahwa aku dengan bangga membagi pengalaman tentang perjalanan atau perjuangan yang aku lakukan sendiri.

Ketika seseorang meninggalkanku, mindset-ku selalu mengkuatkanku "You are an independent woman, fa! You can! Even without him/her!"

Ketika aku lelah melakukan sesuatu, mindset-ku menyemangatiku "Selama kamu bisa sendiri, jangan merepotkan orang lain."

Tidak jarang aku menolak tawaran pertolongan orang lain (selama aku bisa melakukan sendiri), dan tidak jarang juga aku menolak menolong orang lain (untuk sesuatu yang aku anggap bisa dia lakukan sendiri).

"Fa.. Mau dianterin ke stasiunnya?" | "Ga usah... Ga usah... Aku naik BRT aja"

"Fa.. Aku ga tau alamatnya. Temenin yuk" | "Paste alamatnya di GPS aja. Trs ikutin ntr nyampe sendiri"

"Fa... Jadi kita nunggu di terminal nomer brp nih?" | "Hmm..." | "Aku tanyain ke orang aja ya." | "Tunggu... Tunggu... Pasti ada denah terminal di sekitar sini."

Hingga akhirnya aku sadar. Ah tidak. Rem-ku sepertinya blong! Hal-hal seperti itu lama-lama membuatku lebih suka menyendiri. Dan menyendiri lama-lama membuatku seperti orang yang anti sosial.

Aku ingat dulu aku pernah bilang ke seseorang,

"Ntar pas sidang skripsi aku ga mau ngasih tau siapa-siapa", ucapku.

"Jangan gitu. Seenggaknya kasih kabar ke mereka. Biar mereka merasa dihargai.", jawabnya.

Hingga akhirnya... Kemarin tanggal 14 Maret 2016 aku sidang skripsi. Aku pun mengabarkan tentang hal tersebut ke teman-temanku.

Ternyata mereka datang... Dan dengan datangnya mereka, ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika betapa menyenangkannya itu.

Iya... Ternyata rasanya senang sekali, ketika selesai sidang.. Teman-teman kita langsung menyalami kita, memberi selamat, memberi selempang, bunga, atau lainnya. Senaaaaang sekali... Dan benar-benar berkesan. Lebih berkesan dari sekedar maju ke depan peserta upacara untuk menerima piala kejuaraan, atau memperoleh IP 4.

Bahkan, Ada beberapa hal tak terduga berjalan lebih mudah karena ada mereka. Seperti saat sidang ternyata dosen pengujiku menemukan typo di lembar berita acara. Untung ada Satria dan Indi yang menungguiku di luar dan membantu mengeprint ulang.

Dari sidangku kemarin itu aku belajar suatu hal, bahwa... Boleh menjadi mandiri, tapi jangan sampai itu membuatmu suka menyendiri. Bersama teman-teman itu menyenangkan, bahkan di moment yang bisa kamu lakukan sendiri. Walaupun ga bisa dijelaskan dengan logika, pokoknya ada ketenangan, kebahagiaan, ketika ada teman di sekitar kita.

Sekarang.... Nggak bisa dipungkiri bahwa tolong menolong ke suatu hal sesederhana apapun itu adalah bentuk awal terjalinnya komunikasi antarteman. Sekali lagi... Boleh menjadi mandiri, tapi menolong atau ditolong hal yang sederhana juga bisa mengikat silaturahmi.

Sesederhana meminta bawang merah ke tetangga ketika mau masak dan kehabisan. Sesederhana menanyakan jam ke teman samping bangku ketika jam kuliah. Semua itu bisa dilakukan sendiri, tapi... Akan ada ikatan tersendiri ketika kita pernah menolong atau ditolong teman.

Nah fif... Sekarang tau kan? Hal sederhana oleh temanmu (yang walau kamu bisa lakukan sendiri) bisa menyenangkanmu. Jadi jangan ragu untuk melakukan hal sederhana pada temanmu (yang walau sebenarnya bisa temanmu lakukan sendiri), karena itu akan menyenangkan mereka. Dan dengan mereka senang, maka kamu juga akan senang. :)

Well... Mandiri dan suka menyendiri menurutku memang dua sifat positif dan negatif yang hampir mirip. Jika keblablasan dan tidak di-rem, maka akan menjadi tidak seimbang. Ga mandiri itu ga baik, terlalu suka menyendiri juga ga baik.

Tapi ya... Memang penilaian orang tentang kadar mandiri atau kadar suka-meyendiri itu berbeda. Ada yang menurut kita itu mandiri, menurut orang lain tidak. Menurut kita tidak suka meyendiri, menurut orang lain iya. Ya... Semoga kita termasuk orang bijak, yang selalu memakai kaca mata positif ketika menilai orang lain. Sehingga kita bukan termasuk orang yang bisa melihat semut di seberang lautan, tapi tak bisa melihat gajah di pelupuk mata.

Oh ya... Dua sifat tadi ku rasa bisa dianalogikan juga dengan sifat percaya diri dan sombong, rendah hati dan minder, pecicilan dan enerjik, tegas dan keras, pekerja keras dan ambisius, humoris dan gila, dan lain sebagainya. Ya... Hampir mirip. Yang jelas, jika ada orang yang mempunyai dua sifat yang hampir mirip tersebut, semoga aku termasuk orang yang selalu memakai kaca mata positif. Amin.

PS : sangking senengnya, aku sampai bingung mau memulai to-do list habis sidang yg mana... Ke pantai? Nonton film serial? Atau.....

0 Komentar:

Post a Comment

Google+ Followers

Follow Me

Translate

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com