Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Friday, May 27, 2016

Fifa dan Cita-Cita

Interviewer : Tell me about your leadership experience?
Me                : Well, I have ever been an admin in whatsapp group  ;)

Gue ga tau kenapa gue ngebuka tulisan ini dengan sebuah percakapan interview di atas. Plis… Leadership experience gue ga sebatas admin di whatsapp group kok. Gue juga pernah jadi pemimpin doa waktu buka puasa bareng keluarga gue. #TurunkanFifa

Well.. Kenapa tiba-tiba gue ngomongin interview kerja? Karena akhir-akhir ini temen-temen gue lagi gencar-gencarnya ikut yang namanya job fair atau sejenisnya. Sementara gue? Gue malah mikirin kapan gue mau operasi pengambilan logam platina di tulang bahu gue yang pernah patah ini. Kan lumayan, logam platina biasa dijadiin perhiasan. Kalo gue jual lagi gue bisa balik modal. (Mental dagang, biar kayak Mail di Upin Ipin)

Gue baru aja wisuda akhir April kemarin dan udah ada aja yang nanyain, “Sekarang kerja dimana, Fa?” Yang gue heranin… Kenapa yang mereka tanya begituan? Gimana kalo cita-cita gue bukan mau kerja? Bisa aja kan gue mau perjalanan ke Barat mengambil kitab suci, atau mencari negara Atlantik yang hilang, atau mungkin pergi melamar pangeran George.

Interviewer : Baik, kalau begitu apa rencanamu ke depannya?
Me : makan siang
Interviewer : Bukan.. jangka panjang kemudian.
Me  : Oh.. makan  malam.

Ngomongin soal cita-cita, sejak kecil ampe sekarang cita-cita gue sebenernya sering banget berubah-ubah.

Waktu SD, gue pernah punya cita-cita jadi penjahit. Iya! Waktu itu gue belum tau istilah “Fashion Designer” or sejenisnya. Jadi kalau ditanya guru, gue malah diremehin gitu. Padahal itu kan passion gue waktu itu. Haha. Saat itu gue suka banget ngejahit baju buat barbie gue. Kakak gue aja ampe kagum gitu. Model bajunya lucu-lucu and unik katanya. Sampe akhirnya gue ketahuan kalo kain yang gue pake buat njahit kadang hasil nyobek bajunya kakak. -_- Gue kelas 3 SD waktu itu. Jangan salahin gue.

Kelas 4 SD, gue pernah pengen jadi penulis princess. Gue inget banget dulu waktu kelas 4 gue nulis dongeng judulnya “Putri Bunga”. Biasalah… ceritanya tentang princess-princess yang akhirnya menikah dengan pangeran, and happily ever after.

Kelas 5 SD gue pernah pengen jadi pelukis. Gara-garanya gue selalu dapet nilai tertinggi di kelas waktu ngegambar. Haha. Padahal kalo udah disuruh ngewakilin sekolah di tingkat kecamatan, gambar gue udah kayak remukan mie instan yang jatuh di kompor.

Waktu kuliah… cita-cita gue mungkin berubah ratusan kali. Awal kuliah sih gue fix banget pengen jadi programmer or software engineer. Tapi di akhir kuliah, di jaman-jaman gue nulis skripsi, gue pernah di titik yang…. “Cita-cita gue lulus aja udah! Itu aja! Ga lebih”.

Kadang, cita-cita gue juga mulai jadi random. Nonton film The Martian, tiba-tiba pengen jadi astronot. Nonton film Mission Impossible, tiba-tiba pengen jadi agen rahasia. Nonton film Marvel, tiba-tiba pengen jadi power ranger.

Bahkan kalo udah capek banget sama revisian, cita-cita gue jadi… “Gue mau nikah aja udah, mau jadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya! Ga sarjana ga pa-pa”, tapi semua berubah ketika tiba-tiba gue sadar… Iya! Jodohnya belum dateng. ---___---

Setelah lulus ini. Cita-cita bukan lagi perandaian, karena langkah gue sekarang adalah cita-cita tersebut. Gue ga boleh main-main dalam menentukan keputusan. Harus diukur, dianalisa, ditimbang, dan disimpulkan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Spoiler bentar : Habis ini gue bakal nulis agak serius. Isinya berupa analisa gue yang udah ngebuat gue insomnia beberapa hari ini.

Oke, kali ini serius. Jauh di lubuk hati terdalam, sejak SMA sebenernya gue pengen lanjut S2 di luar negri. Iya sejak SMA. Keinginan tersebut juga gue sebut pas wawancara beasiswa waktu gue mau masuk kuliah dulu (Yak! 5 tahun yang lalu). Rasanya ada sesuatu di jiwa gue, dimana gue suka banget belajar. Gue selalu haus akan ilmu pengetahuan. Pengetahun bukan cuma dari bangku kuliah lho ya. Bisa aja dari lingkungan kita. Jadi, gue pengen S2 bukan cuma karena gue pengen pinter, tapi gue percaya bahwa lingkungan juga bakal ngebentuk karakter gue. Gue suka ketika gue bisa ketemu orang-orang hebat yang akhirnya bisa menginspirasi gue.

Proses pengerjaan skripsi yang molor dari harapan (mundur sebulanan doang kok) (tapi tetep aja gue harus bayar SPP jadinya) ngebuat gue belajar untuk fleksibel dengan cita-cita gue. Karena orang yang biasa minum obat pake pisang, terus terpaksa minum pake air, tetep aja airnya doang yang ketelen, alhasil obatnya dikunyah sekalian. Pahit. Pahit banget.

Gue pernah cerita tentang mimpi gue ini ke beberapa cowok, dan beberapa di antaranya terlihat kontra dengan ini. Ada yang bilang bahwa cewek sampe S1 aja cukup, karena cewek ga ada tanggungan buat menafkahi keluarga. Ada juga yang malah beranggapan bahwa orang yang S2 itu bakal kehilangan jiwa kewirausahaannya.

Dari situ gue sempet curhat sama temen-temen cewek gue… dan beberapa di antara mereka beranggapan “Fa, kalau kamu kuliah lagi. Ya kamu bakal gini-gini terus. Kamu bakal asik belajar, belajar, dan belajar, ga merhatiin diri kamu yang sampe kurus kering gini.”

Selain itu.. Percaya atau nggak, gue serasa kembali ke cita-cita gue saat kelas 4 SD dulu. Bertemu pangeran, menikah, happily ever after. Terus tiba-tiba gue inget bisik-bisik masyarakat di Indonesia tentang cewek yang pendidikannya tinggi, “Guys will scared of you”.

Saat itu gue berada di titik yang “fix! gue mau kerja aja”. Dengan kerja gue bisa punya uang sendiri, ada waktu ngerawat diri gue, ngemanjain diri gue, liburan, dan yang jelas gue bakal inget terus buat bahagia.

Dan tiba-tiba gue nemu tulisan ini…

Indonesian Women : a higher education vs. marriage 
How does it feel to be a woman who wants to pursue a higher education in Indonesia? Can be quite challenging for some. There will be quite many text messages or comments in social media asking “When will you get married?” or “why you never post or upload something about a guy?” (like seriously you ask about these stuff?!!) The pressure just come from all the directions, thus if you don’t explode, you are a really high quality woman.
When I decided to continue master (and Abroad) some ‘friends’ told me. “Guys will be scared of you.” that’s the first stereotype. The second is, “If you will end up at the kitchen, why should you spend so much time to study?”
-First point, I love to cook. But I will not spend my life just for cooking. I have this thing called ‘passion’ to learn. I can’t be categorized as smart, no! I am just very determined and passionate in getting what I want. I love to study here. The more I study, the more I realize that I still know very less.
The more I study, the more attractive knowledge is, even though the consequences are getting really tired and lack of sleep. I will finish my master soon. I will be 24 y.o. when I finish master. I’ve been changing a lot for these 2 years. If at the past because everybody gets married then I want it too, now, I am more concern about repairing the quality of myself. So when somebody blames my ‘higher education’ as the reason why I am not married until now, it is totally wrong.
Marriage is a big deal, you have to be able to wake up really early, preparing food, dealing with the baby, loosing me time, and the most important are ‘compromises’. Spending the time for dating or being close to somebody special is nice, but spending ‘your whole time’ with that somebody, I think it would need patience in compromising things. Those things I am practicing right now to be able to handle those stuff before I get married.
At the moment, I am really enjoying to live independently, earn money (from the scholarship :p), having my own place and learn to manage it, buy things those I want, I think it is once in a lifetime. It is nice to learn about how to be an independent woman, because being independent is necessary no matter If you are married or not.
I like this quote from a woman. “I don’t have to wait until prince charming comes with his white horse because I already have my own horse.” –A general manager in a multinational company.
-Second point, I’ve witnessed so many broken marriages in my 24 years of life. And my mom was also ‘a single parent’ for 15 years. But she was so strong besides she was also well educated. She knew how to earn money, raised two kids, fixed the electricity, repaired the broken ceiling, she cooked very nice, and she is very pretty in spite of her lacks as a single mom. She always taught me, “don’t complain too much, and if you can handle things by yourself then do it, instead of asking for help.”
Whereas I saw so many women were left by their husband and they were totally broken. They did not know how to earn money, they did not know how to deal with difficult situations, thus, it might affect their children mentally and physically.
Besides that, to answer the question “guys will be scared of you”, I am questioning why we should marry somebody that does not have that confident and eagerness to develop himself? We shouldn’t pretend to be dumb just to make a man feel confident.
There is a nice advice from a motivator, "Use your logic before you fall in love. Attraction can be an accident, but falling in love is a decision. Be logic before you fall in love, because once you do, it will be too difficult to be logic.”
I think a smart and a nice woman will ‘motivate’ her partner to be a better man. Besides a great man, there always be a great woman. Look at real examples, Aisyah, the wife of Rasul Muhammad SAW, she was the smartest woman in her era. The outstanding scientist yet romantic couple Pierre Curie and Marie Curie, Johan Sebastian Bach and Anna Magdalena, Bill and Melinda gates, the ex- President of Indonesia and aviation scientist -Bacharudin Jusuf Habibie and dr. Hasri Ainun and so many other examples out of there.
-The third point is, it is the right of the person to keep her/his personal life private. Don’t complain about other people’s life unless it is related to you. You can be a caring person and give an advice, but let’s draw a line in between caring and too much curious about other’s life.
-The last point, the quality of a person is not determined by if he/she is single/taken. The quality of a person is determined by how much this person can bring a great impact for his/her surroundings.
Zahrina- currently pursuing MSc. from Universiteit Gent, Belgium and University of Groningen The Netherlands

Sumpah! Gue ngerasa setiap baris tulisan tersebut bener-bener gue! Bahkan di bagian gue pernah punya ibu hebat dan mandiri yang single parent ngebesarin gue. Dan gue juga setuju banget yang bagian “Why we should marry somebody that doesn’t have that confident and eagerness to develop himself?” Yaps!! Sama kayak penulis di atas, I also agree that... instead... a man will be more developed (motivated) with a smart and nice woman. Besides a great man, there always be a great woman, right?

Gue jadi inget perjuangan gue dulu buat menuhin jiwa yang selalu “haus akan pengetahuan” ini. Gue sampe pernah mogok makan agar ortu gue ngebolehin gue lanjut di SMA 1. Gue juga pernah sampe nekat ke Semarang untuk pertama kalinya, sendirian di Semarang, cuma buat nanyain beasiswa di Undip. Gue pernah pertama kalinya dan sendirian ke Jakarta, nangis-nangis biar kakak gue mau minjemin gue 10 juta, mangkir satu semester, demi gue bisa belajar sebagai exchange student di Korea. God! Gue sampai seambisius itu demi menuhin mimpi gue. Dan sekarang, hanya karena omongan sekitar gue hampir goyah. Gue prihatin sama diri gue sendiri. Mana Fifa yang duluuuu????

Well, ini BUKAN berarti GUE HARUS KUDU BANGET LANJUT S2. Pelajaran hidup waktu gue nulis skripsi, yang tentang fleksibilitas juga harus gue terapin (kita belajar dari pengalaman hidup ya untuk diterapkan bukan? Bukan cuman buat tulisan aja). Maksud gue adalah gue bakal ngembaliin S2 jadi prioritas (utama) mimpi gue. Gue bakal ambisius buat ngejar mimpi gue itu, tapi gue tetep fleksibel pada hasilnya.

Satu lagi…

“Kenalin batasan diri lo, agar lo bisa melampauinya!”

Kenapa tiba-tiba gue nulis itu? Well.. itu reminder buat gue aja sih. Gue tiba-tiba inget temen gue yang bilang, “Fa, kalau kamu kuliah lagi. Ya kamu bakal gini-gini terus. Kamu bakal asik belajar, belajar, dan belajar, ga merhatiin diri kamu yang sampe kurus kering gini.”

Hal tersebut ngebuat gue ber-mindset bahwa gue ga merhatiin diri gue karena gue belajar. Yang selanjutnya mindset ini ngebuat gue nyalahin “Belajar” atas “diri gue yang ga keurus”. Haha.. Gue jadi nyalahin kelebihan gue atas kekurangan gue. Selanjutnya lagi, hal ini ngebuat gue berpikir bahwa gue harus milih salah satu. Kalo gue mau punya kelebihan ini, ya gue harus punya kekurangan ini. Kalo gue mau kekurangan gue ilang, ya kelebihan gue juga bakal ilang. Duh.. gue serasa jadi psikolog. Haha..

Intinya gue lagi mau ngenalin diri gue, dan ternyata mindset gue tersebut salah! Salah besar! Kenapa salah? Jadi begini….

Gue sempet sharing-sharing sama temen gue yang udah kerja. Dan komentar dia gini, “Siapa bilang orang kerja juga ga ada tekanannya? Yakin kalo milih kerja jadi ada waktu buat ngurus diri?”
Pertanyaan temen gue itu ngebuat gue flashback dimana gue pernah kerja di salah satu proyek di dinas sosial jateng. Gue sampe ninggalin skripsi gue demi ngerjain itu.

Fix! Dari itu gue sadar. Pada dasarnya, kekurangan gue ini ga ada kaitannya sama kelebihan gue. Kekurangan gue ini “ada” karena salah satu keterbatasan pada diri gue yang ternyata gue hanya bisa konsentrasi pada satu hal.

“Konsentrasi pada satu hal aja” emang ngebuat gue bener-bener total berjuang pada hal tersebut dan mungkin ngebuat gue jadi superior/master di bidang itu, tapi gue jadi nglupain hal-hal lain yang gue anggep sederhana, tapi sebenernya penting. Secara tragis gue bilang gue jadi lupa bahagia, lupa ngemanjain diri gue sendiri. Diri gue kan sebenernya juga butuh belaian piknik, hiburan, perawatan, olahraga, tidur cukup, dan lain sebagainya.

Jadi gue berkesimpulan, gue mau kerja pun (bukan kuliah), kalo gue ga ngenalin diri gue yang ternyata hanya bisa konsentrasi pada satu hal. Gue juga tetep bakal gini-gini aja. Gue bakal asik kerja, kerja, dan kerja sampe gue ga merhatiin diri gue yang kurus kering gini. Haha..

So, to conclude your reminder, Fa! Lo tetep berjuang aja buat S2 lo! Jadilah master di bidang lo! Tapi kali ini lo harus belajar buat bisa konsentrasi ke lebih dari satu hal. Ngenalin keterbatasan lo aja ga cukup, lo harus bisa melampaui batasan tersebut.  Ganbatte!


PS : Tanggal 31 Mei ini gue bakal SBMPTN operasi pengangkatan pen di bahu gue. Moga lancar ya.. amin..

0 Komentar:

Post a Comment

Google+ Followers

Follow Me

Translate

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com