Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Saturday, December 2, 2017

From the Scientist to the Counselor

"Aku ga habis pikir apa yang ada di pikiran Fifa."

"Kok bisa ya?"

"Nggak ngerti lagi sama Fifa".

That moment, ketita cara berfikirmu benar-benar berbeda dengan orang lain pada umumnya maka kamu akan sering mendengar ucapan-ucapan itu.

Well, itu dulu sih. When I was the Scientist , I heard a lot of those words. Because I was only 0.8% of the population in the world (for women), but generally (with also men), it is 2% in the world. Now I am the Counselor and those words have rarely heard anymore. But you know what? Apparently the Counselor is only 1% of the population in the world (men and women). Somehow, it is still small.

Wait! Wait! Scientist ? Counselor ? Apa yang kamu bicarain sih Fif? Ini adalah sebutan bagi pemegang kepribadian berdasarkan tes kepribadian MBTI. The Scientist adalah sebutan untuk pemegang karakter INTJ  (Introvert-Intuitive-Thinking-Judging) sedangkan the Counselor adalah pemegang untuk karakter INFJ (Introvert-Intuitive-Feeling-Judging).  Oh iya, selain the scientist, INTJ juga kadang disebut the architect atau the master mind. Sedangkan INFJ selain disebut the Counselor , dia juga kadang disebut the advocate atau the The Protector. Lalu? Kenapa aku nulis ini? Kenapa aku peduli dengan ini? Kenapa aku tahu tentang ini?

Semua bermula saat aku sophomore student di UNDIP, sekitar tahun 2012. Saat itu pemberi beasiswaku mengadakan tes kepribadian kepada seluruh awardees, tujuannya untuk membaca potensi karir yang cocok untuk kami di masa depan. Setelah hasilnya keluar, Aku dapat INTJ dan aku lumayan kaget dan heran karena deskripsi yang dipaparkan benar-benar aku. Bahkan daftar potensi karir yang tercantum tak jauh-jauh dari jurusanku seperti Programmer, Software Engineer, Scientist, Analyst, dan lain-lain. Padahal alasanku dulu memilih jurusan Computer Science hanya karena aku suka matematika. Itu saja. Saat itu bahkan aku tidak tahu kalau ada pekerjaan semacam Programmer, Software Engineer, la la la la.

Sejak itu aku mulai browsing tentang INTJ dan menemukan online personality test serupa dan lagi-lagi hasilnya INTJ.

Oh ya, saat aku sedang membuka-buka berkas jaman SMA dulu, aku baru sadar bahwa aku pernah melakukan tes kepribadian serupa saat kelas 1. Saat itu aku tidak tahu sama sekali kalau tes tersebut dinamakan tes kepribadian. Yang aku tahu, tes tersebut dilakukan untuk membantu kami memutuskan untuk masuk IPA atau IPS saat kelas 2 nanti. So, dari sekian banyak tulisan di sertifikat hasil tes kepribadian tersebut yang aku baca hanya bagian "IPA". Kini setelah aku tahu tentang tes kepribadian aku sadar ternyata sejak kelas 1 SMA aku sudah INTJ, dan di situ juga tercantum karir yang cocok untukku tak jauh-jauh dari computer scientist. Benar-benar kebetulan.

Menjadi INTJ itu nggak mudah apalagi if you are women. Women used to use feeling more, but me? malah sebaiknya. Itulah kenapa aku peduli tentang tes kepribadian karena ketika aku baca setiap deskripsinya, aku merasa "Akhirnya ada yang mengerti aku". Bahkan ketika ucapan-ucapan di atas itu keluar dari orang lain rasanya seperti aku akan menyuruh mereka membaca tentang profil INTJ https://www.16personalities.com/intj-personality, bahwa orang sepertiku bukan cuma aku dan kami itu ada.

Tapi... tapi, FYI jadi INTJ juga ga seburuk itu lho! Ada saat dimana dengan menjadi INTJ aku bisa melejit di bidang matematika atau ilmu komputer, menjadi perencana yang strategis, menjadi pemikir yang matang, dan lain-lain selengkapnya baca di sini saja --> https://www.16personalities.com/intj-personality

Tapi...

Sekarang aku sudah berubah!

Sekarang aku the Counselor!

Dan aku antara khawatir tapi juga senang tentang perubahanku ini.

Yang membuatku khawatir adalah ternyata aku lebih merasa cocok dengan tokoh-tokoh yang berkepribadian INTJ daripada INFJ. Contoh tokoh yang berkepribadian INTJ adalah Katniss Everdeen, Gandalf the Gray, dan lain-lain. Sedangkan contoh tokoh yang berkepribadian INFJ adalah Martin Luther King, Nelson Mandela, dan lain-lain. Maksudku, menjadi seperti martin luther king atau nelson mandela itu ga buruk, keren malah. Tapi... Katniss Everdeen lebih keren. Haha. I don't know apakah ini karena aku lebih sering nonton film daripada baca buku sejarah perdamaian dunia atau aku mencoba menyangkal diri sendiri saja. Haha.

Alasan kedua yang membuatku khawatir adalah ternyata aku lebih cocok dengan career path INTJ dari pada INFJ. Seperti yang aku bilang sebelumnya, karir INTJ sesuai dengan jurusanku. Tapi, karir INFJ sangat-sangat jauh, contohnya adalah psikolog, konselor/penasihat, guru, dokter, dan lain-lain. Jangan-jangan aku sudah lupa caranya ngoding. Haha.

Yang membuatku senang, Counselor membuatku merasa bahwa aku memiliki kelebihan the scientist tapi aku tidak memiliki kekurangannya. Well, tadi aku bercanda soal aku lupa ngoding. Of course I still remember it and I still enjoy to learn about computer science.  Dan mejadi tokoh perdamaian dunia kemudian masuk dalam buku sejarah juga keren.

Untuk membaca deskripsi tentang INFJ bisa di sini --> https://www.16personalities.com/infj-personality

Awalnya aku juga tidak percaya bahwa karakter itu bisa berubah. Apalagi karakter yang sudah tertanam bertahun-tahun. Tapi ternyata bisa kan? Mungkin aku telah melalui banyak peristiwa besar atau peristiwa pahit yang berulang-ulang kemudian aku belajar atau entahlah. Ini terjadi bergitu saja.

Lalu, kapan aku sadar aku telah berubah?

Saat itu akhir tahun 2016, kantor internku mengadakan tes kepribadian. Awalnya aku sudah bilang "I think I don't need to do that. I am INTJ since then and the result will always be like that". Tapi temen kerjaku insist dan yah! ternyata hasilnya INFJ alias the Counselor.

Setahun berlalu, baru-baru ini aku tes lagi dan hasilnya INFJ lagi.

Semalam aku tidak bisa tidur memikirkan ini dan ternyata memang ada beberapa hal yang berubah dari diriku. Ini saatnya aku menulis lagi di blog tentang "evaluasi diri" yang dulu selalu aku lakukan sebagai bentuk pembelajaran hidup atau kedewasaan atau perubahan yang aku alami. Agar suatu saat ketika aku baca lagi, aku akan tahu bahwa aku telah berkembang atau berevolusi.

Jadi, berikut hal-hal yang ada pada diriku sekarang tapi tidak aku miliki dulu :

1. Sekarang aku berpandangan bahwa tujuan utama dari hidup adalah bahagia.

Dulu aku sangat-sangat ambisius yang kadang aku bisa menyiksa diriku sendiri. Salah satu contoh : Aku bisa tidur hanya 3 jam per hari just because I want to be the smartest in the class. Sekarang, what's the point of being smartest if you are not happy? Sometimes being only smart is enough as long as you are happy. Sekarang aku lebih menerima kegagalanku karena itu tadi, "Bahagia" itu yang terpenting. Aku tidak se-ambisius dulu dalam mengejar mimpi, tapi aku tetap berusaha dan menerima apapun hasilnya.

Dulu aku terlalu mengkhawatirkan masa depan sampai-sampai aku lupa bahwa aku juga butuh bahagia di masa sekarang. Masalahnya lagi, masa depan itu selalu ada dan goal/mimpi akan terus tumbuh jadi pada dasarnya aku selalu mengabaikan pentingnya bahagia itu sendiri.

Tahun 2013 awal, sepertinya masih INTJ. Itu aku waktu jadi wakil UNDIP di olimpiade Matematika dan aku jadi satu-satunya mahasiswa yang bukan dari jurusan matematika. Look at that panda eyes! Terlihat sangat memperkosa otak! Lol.


Dan, tujuan bahagia dalam hidup ini juga mengubah sudut pandangku tentang apa yang sebenarnya orang lain butuhkan juga. Aku berpandangan bahwa semua orang di sekitarku juga ingin (butuh) bahagia. Maka dari itu caraku berinteraksi dengan mereka juga sebisa mungkin tidak membuat mereka sedih. Misalnya, ketika orang bertanya pendapatku, mostly aku akan menjawab hal yang ingin mereka dengar dari pada mengatakan apa yang sebenarnya ingin aku katakan.

Lalu, bagaimana aku tahu apa yang bisa membuat mereka bahagia? Nah, ini masuk pada poin kedua yang berubah dari diriku, yaitu aku sekarang sering mencoba untuk mengenal atau memahami karakter orang lain.

2. Sekarang aku sering mencoba untuk memahami karakter orang lain.

Sama halnya dengan orang yang sering heran dengan caraku berpikir, dulu aku juga sering heran dengan cara orang berpikir. Instead of saying "What's wrong with me?", I was always saying "What's wrong with them?" Dulu aku sadar bahwa INTJ itu karakter minoritas, tapi aku tetap saja merasa karakter orang lain itu tidak rasional.

Aku sering heran kenapa orang suka berdesak-desakan demi bertemu idol mereka? Kenapa orang suka pergi ke karaoke place yang padahal bisa dilakukan sendiri di rumah? Kenapa beli barang cuma dengan alasan "lucu"? Kenapa orang suka membeli hal yang tidak dibutuhkan hanya karena  sedang diskon? Atau hobi-hobi lainnya yang menurutku tidak ada manfaatnya dan malah merugikan dari segi waktu maupun uang.

Lebih baik tidur atau belajar!

Yass! Dulu aku selalu melihat orang lain dari sudut pandangku. Sekarang apapun yang menjadi cara berpikir orang, aku nilai dengan cara mereka juga. Aku sering mencoba menempatkan diriku jika aku ada di posisi mereka. Dibesarkan seperti mereka, ditempa dengan pengalaman hidup seperti mereka, memiliki lingkungan seperti mereka, maka aku juga akan berpikir seperti mereka. So at the end, I will always say "it makes a sense" to go karaoke, hangout, club, or other things that I was thinking it's useless. Mungkin itu cara mereka untuk bahagia, dan selama itu membuat mereka bahagia, they reached the purpose of life already so it is okay. I respect that.

Maka dari itu juga, aku selalu menikmati mendengarkan pengalaman orang lain atau sejarah orang lain. Itu membantuku untuk mengenal cara berpikir orang tersebut. And you know what? Dulu waktu SMA aku paling benci pelajaran sejarah karena terlalu banyak hapalan tidak seperti matematika yang cukup dengan logika saja, sekarang tanpa sadar aku sering secara tiba-tiba berada pada wikipedia yang bercerita tentang VOC atau kerajaan majapahit. (Well, ini intermezzo. Aku nggak tau ini ada kaitannya dengan INFJ apa nggak ---__---)

Semakin aku memahami karakter orang semakin aku sadar bahwa manusia itu sangat beragam. Setiap orang punya karakter positif dan karakter negatif masing-masing, termasuk aku sendiri. Sebagaimana aku ingin sisi negatifku diterima, maka aku juga harus menerima sisi negatif orang lain. Dan itu wajar punya sisi negatif. Dari sini aku belajar bahwa menghargai orang lain itu penting.

Tapi memahami karakter orang itu juga ga mudah. Ada beberapa orang yang punya karakter tertutup, ada beberapa orang yang kurang mengekspresikan karakter aslinya, ada orang yang selalu bicara diplomatis, dan lain-lain. Kita tidak bisa secara eksplisit atau pertama kali bertemu langsung bertanya "Apa sisi negatifmu?", "Apa sisi positifmu?", "Apa yang kamu suka?", "Apa yang tidak kamu suka?". It's not job interviewing. Maka dari itu masuk ke poin 3, sekarang aku mempertimbangkan faktor "Hubungan Sosial" dalam mengambil keputusan.


3. Sekarang hal-hal seputar "Hubungan Sosial" masuk dalam faktor penentu keputusanku.

Aku akui terkadang nature-ku sebagai "Introvert" (from INFJ--> the I ) masih sering muncul. Aku masih betah berlama-lama di ruangan, tidur, atau bermain komputer. Jadi ketika weekend akan datang semua orang bersorak-sorai termasuk aku, mereka akan menjawab "Karena akhirnya aku bisa main dan jalan-jalan", tapi aku akan menjawab, "Karena akhirnya aku bisa di rumah seharian".

Dulu, setiap diajak teman untuk hangout atau bermain yang jadi faktor penentu aku bilang YES or NO adalah "Apakah layak waktuku dihabiskan untuk hal-hal seperti itu?", "Apakah layak uangku dihabiskan untuk hal-hal seperti itu?", "Apakah kegiatan tersebut membuatku produktif (dari segi science)?", dan beberapa faktor lainnya yang mayoritas membuatku berkata "NO".

Tapi sekarang ada faktor tambahan lain yaitu "Apakah kegiatan tersebut bisa membuatku mengenal karakter orang-orang di dalamnya?", "Apakah kegiatan tersebut bisa memunculkan keterikatan sosial?", "Apakah kegiatan tersebut bisa membuat orang-orang di dalamnya bahagia?", dan lain-lain,

Dengan adanya faktor tambahan tersebut aku makin sering berfikir dan lama dalam menentukan keputusan, tapi senggaknya sekarang aku ga sekolot itu kalau diajak ikut kegiatan, bermain, atau hangout. Bahkan ke tempat-tempat yang mungkin dulu aku pikir itu useless. Selama aku tahu orang-orang yang bersamaku dalam kegiatan tersebut layak untuk dikenali, maka aku akan bilang "YES".

Karena faktor "Hubungan Sosial" ini juga, aku lebih sering mengambil keputusan untuk mengalah. Padahal, dulu aku selalu ingin muncul sebagai pemenang atau orang yang unggul dalam debat. Kini, Aku selalu menghindari perdebatan atau berkata "Iya" hanya untuk membuat lawan bicaraku berhenti mengajak debat atau berhenti memaksakan sudut pandangnya padaku.

Tapi terkadang nature-ku yang "Judging" (from INFJ--> the J ) juga masih sering muncul bahwa aku tidak mudah goyah. Aku tidak semudah itu berkata "Iya" pada suatu debat yang aku yakini aku benar. Konflik batin sering memuncak yang mengarah pada emosi. Tapi di satu sisi aku tidak mau berdebat apalagi jika ujung debat ini membuat salah satu dari kami tidak mencapai tujuan bahagia itu tadi. Maka dari itu aku selalu berkata pada diri sendiri "Ketika kamu sedang emosi, maka diam!! Apapun yang keluar dari mulutmu itu bukan kamu" atau "Tak apa orang lain menganggap kamu salah / kalah. Kebahagianmu bukan dari apa yang orang lain pikirkan, tapi dari apa yang kamu pikirkan."

Tahun 2015 akhir, sepertinya awal mula aku akan berubah jadi INFJ, I went hangout with my friends. Waktu itu aku baru aja nyampe Semarang dari Kendal. Habis motor-an 2 jam dan langsung pergi sama temen-temen sampai jam 10 malem. Sound tiring huh? But look that smile!

OH MY GOD! It's a bit creepy tho. Aku kadang masih ga percaya 3 hal di atas ada di diriku sekarang. I mean, dulu aku benar-benar robot. Percaya atau nggak, waktu aku INTJ, persentase antara thinking dan feeling-ku adalah 80:20. Lumayan jauh kan? dan sekarang bagaimana bisa berubah dari "T" ke "F"? Bagaimana sekarang aku begitu peduli tentang perasaan orang lain? What if I hurt them? Is it gonna make them happy? AH!! Aku percaya jika aku peduli dengan kebahagiaan orang lain maka orang lain juga akan peduli dengan kebahagiaanku. Lets live happily ever after.

1 comment:

  1. wah, bacanya kayak lagi baca tulisan orang lain yang nulis isi kepalaku...
    apalagi poin 2. nggak sih, hampir semuanya.

    tapi terakhir aku INTP kak, belum coba tes lagi.

    salam kenal, saya Novy.

    ReplyDelete

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

Hallo there, you can call me Fifa..
I am Indonesian who is currently studying in Korea.

Popular Posts

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com