Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan yang ingin kamu baca.

Saturday, November 18, 2017

Question & Answer KGSP




1. Apa sih KGSP itu?
KGSP adalah singkatan dari Korean Government Scholarship Program, intinya adalah beasiswa yang disedikan oleh pemerintah korea untuk orang asing yang akan belajar di Korea baik s1, s2, maupun s3. Mencakup semuanya baik tiket pesawat, tuition fee, asuransi, dan biaya hidup bulanan. Info lengkap ada di --> http://www.studyinkorea.go.kr/en/main.do

2. Bener ga sih kakak katanya ga pake notaris dan sworn translator buat dokumen-dokumennya?
Iya bener. Tapi bukan berarti aku menyarankan kalian untuk ga pake itu ya. Soalnya kebijakan bisa berubah-ubah. Kemarin aku ga pake jasa sworn translator soalnya berdasar analisaku di guideline NIIED tertulisnya gini "semua berkas yang tidak berbahasa inggris/korea mohon dibahasa inggriskan dan disahkan oleh lembaga pemerintahan/ lembaga yang mengeluarkan/ notaris". Ga nyebut2 sworn translator. Jadi senangkepku ga harus sworn translator, translate sendiri juga gapapa asal ada cap-nya dari lembaga pemerintah/lembaga yang mengeluarkan/notaris.

Nah.. ijazah aku ditranslate kampus dan cap dari kampus. Sedangkan bukti kewarganegaraan aku translate KTP-ku dan KTP ortu sendiri terus dibawahnya dikasih keterangan bahwa itu translation yang benar dari file aslinya diikuti cap dan ttd kepdes. Terus buat jaga-jaga jikalau itu ga diterima aku lampirkan juga surat keterangan dari kepdes (berbahasa inggris) tentang kewarganegaraanku dan orangtuaku. Soalnya kalo lihat di guideline bukti kewarganegaraan bisa apapun kan? logic-ku surat keterangan kepdes mungkin bisa mengcover itu.

3. Lebih baik milih daftar pake univ track atau embassy track?
Aku pilih univ track. Kenapa? aku pernah nulis alasannya di sini

4. Kakak dulu TOEFL IBT/IELTS/TOPIK yang dikumpulin? Terus skor-nya berapa?
Jamanku sertifikat bahasa sifatnya optional. Ga ngumpulin gapapa. Logic-ku kalo ga ngumpulin aja gapapa berarti kalo salah ngumpulin juga gapapa. Haha. Aku kumpulin TOEFL ITP padahal di guideline bilang itu ga diterima. Udah gitu skorku di bawah standar yang disebut diguideline. Di situ bilang minimal 550 kalo paper based TOEFL (ini beda sama ITP lho ya), yang aku kumpulin 540. Aku kumpulin sertifikat ITP asli lho. bukan copy-annya.

5. Kakak hubungi prof dulu ya sebelum daftar via univ track?
Yups. Kebetulan sebelum KGSP buka aku udah proses seleksi beasiswa Profesor. Ceritanya saat itu ada kunjungan profesor ke Indonesia, aku ikut walk-in interview-nya dan lolos ke tahap selanjutnya. Sambil mengikuti seleksi beasiswa prof di tahap selanjutnya itu aku daftar KGSP juga di jurusan yang sama dengan prof tersebut (tanpa sepengetahuan prof. my bad -_-). 

Seleksi beasiswa prof tahap kedua itu lumayan menyiksa. Aku disuruh bikin program tentang machine learning DALAM WAKTU SEMINGGU!! skripsiku aja aku selesaiin hampir satu tahun. -_- Untungnya skripsiku tentang machine learning juga. Jadi programnya aku copas-copas dikit dari situ. Hehe.

Singkat cerita, akhirnya aku lolos beasiswa prof. Besoknya pengumuman beasiswa KGSP tahap setengah (apalah ini? ada tahap setengah juga? maksudku ini tahap yang diseleksi IO-nya) dan lolos juga. dan prof-ku kaget kok aku daftar KGSP juga. dan kemudian terjadilah drama kolosal antara aku dan dia. ah.. udah ah... ceritanya panjang.

6. Dokumen yang diperlukan saat pendaftaran itu semuanya harus dikirimkan hardcopy ke Korea ya kak? Lalu apakah hanya perlu mengirimkan hardcopy nya atau perlu jg semacam mengisi aplikasi secara online juga yaa? Dokumen yang kakak kirim waktu itu berapa rangkap ya kak?
Iya Hard copy harus dikirimkan ke kampus koreanya. Untuk softcopy itu tergantung kebijakan kampus masing2 (ada yang perlu ada yang nggak, kadang ada yang minta 2-3 rangkap hardcopy juga lho). Maka dari itu selain kamu baca guidline KGSP yang diterbitin oleh NIIED kamu juga coba cari guideline KGSP yang diteribitin oleh kampusnya masing2. Coba cari di website-nya kalo ga ada coba hubungin international office kampus tersebut.

7. Kakak waktu itu mengirimkan berkas ke Korea pakai jasa pengiriman apa yaa kak? Dan kalau boleh tau, berapa estimasi biaya pengirimannya?
Kalo kamu ga mepet coba pake EMS, sekitar 200-300ribu (semingguan). Aku kemarin pake DHL 500anribu (3-4 hari) karena udah mepet. hehe. Oh iya, aku ngirim berkas dua kali lho. Karena tiba-tiba dihubungin IO kampus korea-nya bahwa berkasku ada yang kurang (Alamak.. duitku melayang lagi... -_-). Huhu. Oh ya, berkas yang kurang itu adalah surat keterangan scale GPA di kampusku Indonesia. Ternyata kalo di transkrip ga ada keterangan tentang scale GPA kita harus ngumpulin itu juga.

8. Untuk sertifikat penghargaan apakah kakak melampirkan pada saat melakukan pendaftaran? Dan apa itu cukup jika berupa fotocopy kak?
iya aku lampirkan semuanya aja... penting ga penting aku kumpulin. toh itu optional. Kembali ke logic-ku tadi kalo ga ngumpulin aja gapapa berarti kalo salah ngumpulin juga gapapa. Hehe. Tapi kalo bisa sertifikat yang berbahasa inggris yang dikumpulin biar mereka tau itu sertifikat apa. aku sih kemarin foto kopiannya aja.

9. Kakak esainya gimana? Formatnya gimana? Share dong!
Aku tulis sesuai yang diguideline. Di situ kan udah disebutin point-point apa aja yang harus disampaikan. Tinggal ikutin aja. Btw ini aku share esainya yang study plan. Singkat banget, bener-bener tinggal njawab point-point di guideline. Klik di Sini. Kalo yang self introduction aku ga share ya.. soalnya ada point tentang course of life. Itu aku cerita tentang masa mudaku yang penuh batu terjal. jadi agak private. Hehe. 

10. Kakak jurusannya apa? linier ga? misal ga linier gimana?
Aku dulu Computer Science, nanti Computer Engineering. Kalo ga linier gapapa menurutku. Temenku ada yang ga linier lolos. Asal alasannya kuat aja sih menurutku.

11. Recommendation letter mending dari mana?
Sesuai yang di guidelinie. Bisa dari mana aja. Kalo menurut aku pribadi yang penting orang tersebut kenal kamu banget-banget. Ga profesor juga gapapa.

12. Kak, kalo mau tanya lebih lanjut dimana ya?
Bisa lewat komentar di sini atau email afifatul.mukaroh@gmail.com :)


Read More

Sunday, October 29, 2017

한옥 스테이 (Hanok Stay)

한달 전에 나는 친구와 같이 속리산에 갔다. 속리산에세 우리는 한옥 스테이 체혐이 했다. 아까 나는  책과 인터넷에서만 봤다. 그리고 한옥 스테이가도 너무 비싸서 나는 체혐을 못 했다.갑작이 학교에게서 무료 한옥 스테이 프로그램이 있어서 운이 좋아 보였다. 나는 신나게 이 프로그램을 가입했다.

한옥에 도착하기 전에 우리 자동차가 산길로 걸어가야 했다. 길은 권선 이여서 진짜 무서웠다. 더욱이 하늘이 어둡게 시작했다. 우리 근처에도 숲처럼 이여서 다른 사람 없었다. 정말 무서웠다.



하지만 한옥 도착하면 경치가 너무 아름다워서 기분이 기뻤다. 더하여 아침에 구경하면 더 아름다웠다. 아침 동안 한옥에서 구름지와 일출을 볼수 있어서 마음이 들었다. 날씨가 춥지만 괜찮았다. 기분이 놀랍기 때문이었다.

친구들이 한국에 오면 한번 한옥 스테이 체혐을 해보세요!!!! :)


법주사

축제

축제

축제에 있어요

우리는 법주사도 갔어요

우리는 정반라고 해요



빔빔밥을 먹었어요
Read More

Thursday, October 5, 2017

BACKPACKING TO SEOUL


This year, Chuseok in Korea comes in a row with other holidays, I don't know what the others holiday name but all I know is now I have 10 days holiday sequentially. Haha. It's from August 30th to Oct 9th. Yah, imagent that!!! It's even longer than my religion holiday.

At the beginning of holidays, I and my roomate tried to travel Seoul for the first time. Not very first time for me actually because I've been there before when I was exchange student. BUT IT'S 4 YEARS AGO!!! Thank's God, Seoul has not many changed, especially the subway metropolitan line or the tourist information person who always walk around the tourist spots.

Our trip was really un-planned. We booked bus ticket to Seoul even at Day-1 and we got the last chairs left. Haha. We slept in our friend's house. We always got anywhere with our big packpack, and you know what? we traveled without internet connection!!! We don't have ARC yet, so we can't buy phone number for DATA/INTERNET CONNECTION. So, the question is HOW COULD WE ARRIVED AT EVERY TOURIST PLACE?? haha. We used a map that we asked from the tourist information person. It's not software FYI, it's really paper!!! Suddenly I feel like DORA the explorer who always asking "Let see the map!", "Can you see the bridge?", Or "We did it!! We did it!!! Huray!".

The map contains about Seoul Subway Line Map, Tourist Area in Seoul + the way to get there, and many more. So, here I suggest you!! First time you come to Seoul, try to find tourist information person. They wear orange uniform and they used to walk around tourist spots especially market place like Namdaemun, Myeondong, Dongdaemun, Insadong, etc.

So, here's the places we visited and how much money that I spent for this travel :

Indonesian Embassy in Korea, entance fee : KRW 0 
You won't never imagent how excited I was when I could get here. I was literally jumping because I felt like home. I was here actually because I needed to join the meeting with Indonesian Student Association (PERPIKA). Yes, I join this organization as the staff.


Seoul International Firework Festival in Hangang River, entance fee : KRW 0 
I thought it's called international because its popularity is in interntaional level, but actually it's because the dancing fireworks appear with various styles of every country. It's really amazing but the Busan Firework Festival is a way better. Maybe because it's free while Busan Firework Festival is not.
Seoul International Fireworks Festival

Namdaemun, entance fee : KRW 0 

It's a market, no entrance fee of course. Haha. Here's where I got my holy map. Haha

Namsan Tower, entrance fee : KRW 0
There's a bus that can take you to the Namsan Tower Location. It's only one thousand something korean won. Very Cheap! It's up hills so I am not recommending you to take a walk. 
At Namsan Tower

Gyeongbokgung Palace, entrance fee : KRW 0
We can get there by Subway line number... Mmmm... (I don't remember. Haha),which only 1000 something korean won. OMG!! I'm not really good in memorizing number. You can also rent a hanbook in this place, it's around 10k something. Haha.


At Gyeongbokgung Palace


With the soldier in Gyeongbokgung Palace


Historical Museum, entrance fee : KRW 0
It's located right beside the Gyeongbokgung Palace. We accidentally got in this museoum because it was raining a lot. Haha. But it's good. There are many historical information about Korea that we can get from there.


SM Town, entrance fee : KRW 0
If you are really into Korean Pop, it's really good to visit. But me? I was getting there because I was lost. haha. We were trying to visit COEX Library, but everyone seems going there so we just followed them. Haha


COEX Library, entrance fee : KRW 0
Firstime I came here, I feel like I am the smartest person in the world! Actually I will feel that everytime I am in Library. Haha. I am not really into book or reading, but my friend is, so here we were.

Gangnam, entrance fee : KRW 0
It 's an area in Seoul which I heard from a song. Hahha. People say that this area is full of stylist korean people, so I was there literally to see "Oppa Gangnam Style!!" *with dancing the gangnam style dance*. After getting here by subway (before 30 minutes) we took a bus to see around Gangnam. After got off the bus (before 30 minutes) we took subway again. Don't imagent us running a lot, because within 30 minutes we can still walking around seeing Oppa Oppa. Hahah. And you know what? because the transition time from Subway-Bus and vice versa is within 30 minutes so the transport fee is all free. Haha.

Seoul National University, entrance fee : KRW 0
We got here because my friend are going to study here one year later. She really want to visit here. My point about SNU is that it reminds me of UNDIP (my undergraduate campus). I used to walk going back to my house from campus, through a wet street in UNDIP with some little rain, in the evening, with many youth are jogging around me. And in SNU, the smell, the weather, the sky, the wet street, the jogging people, are totally like this. I was suddenly like having dejavu. I like that.

Itaewon, entrance fee : KRW 0
As a moeslim, I think it is a must visited place in Korea. Here the atmosphere is really moeslim friendly, not only because there is a big mosque but here we can always see many moeslim foreigner that greeting with "Assalamualaikum" in every meet. Even the food is mostly moeslim-friendly. Moreover, there is program from KTO called "Halal Restorant Week" here. You can sign up the program via internet then you can get discount coupon worthed 10k won and 3k won for eating halal food in Itaewon.

Makan makanan ala-ala india di Food Halal Restorant

Well, now you see the pattern  that I only visited the free entrance tourist spots. Haha. I spent my money mostly in transportation. What? food? Not really.. I am eating only for keeping alive so as long as it can be eaten, I am okay. I am not that type of Food Traveler. I am a backpacker or low budget traveler. Haha. So that's all my story and thanks for reading!!!
Read More

Saturday, September 16, 2017

PENGALAMAN LOLOS KGSP PADA PERCOBAAN PERTAMA (PLUS TIPS-TIPS DIKIT. HEHE)




Jadi, aku jarang banget baca detail suatu beasiswa (seperti cara mendaftar, syarat, timeline, dll) dari suatu blog. Aku lebih suka baca dari guideline yang diterbitin langsung dari penyedia beasiswa tersebut. I know, mungkin lebih tebel dan banyak. Tapi itu yang lebih akurat dan update.

Nah, ketika aku browsing di Google tentang suatu beasiswa kemudian klik salah satu link blog di situ ternyata isinya secara keseluruhan “cuma” njelasin syarat, timeline, which is semua udah ada di guideline. Ga ada pengalamannya sama sekali. 

Rasanyaaa...

Kezel!! 

Yang aku cari sebenernya adalah pengalaman mereka. Aku percaya setiap orang punya pengalaman beda-beda dan justru dari situlah kita bisa belajar. Jadi walopun kita first attempt buat daftar beasiswa, kita bakal ngrasain kayak kita udah sering daftar sebelumnya karena ketika kita baca experience orang lain, kita bakal belajar dari kegagalan dia atau belajar berapa besar struggle dia juga.

About this KGSP, ini adalah first attempt aku dan inilah pengalaman aku pada seleksi beasiswa tersebut.

*drum roll*

Dimulai dari kenapa aku lebih milih mendaftar melalui university track daripada embassy track. Jadi, menurut aku mendaftar melalui university track lebih menambah peluangku buat lolos.

Jadi gini, pada tahap pertama seleksi melalui embassy dilakukan oleh Kedubes Korea sedangkan seleksi melalui university dilakukan oleh univ yang didaftar. Terus berdasarkan analisaku, baca-baca blog, pengalaman, dll, aku menyimpulkan bahwa university bakal lebih interest sama profil atau CV-ku dibanding Embassy. 

Menurutku, university bakal lebih suka pendaftar yang dari segi akademik kelihatan menonjol dibanding faktor lain seperti kemampuan Bahasa, leadership potential, Keberlanjutan Kerjasama, dan faktor2 sosial lainnya. Sebab kenapa? University adalah lembaga pendidikan, dia ingin student dia bisa menyelesaikan kuliah dengan baik di situ (Apalagi jika bidangnya science/engineering). Sedangkan embassy adalah diplomat negara, dia ingin student yang kedepannya bisa membawa hubungan baik antar kedua negara tsb (yang menurut aku ini lebih menjurus ke orang-orang dari social/politik/sastra korea/Bahasa). Ini terbukti lagi bahwa NIIED (penyelangga beasiswa ini) menyebutkan di guideline bahwa ada slot tersendiri bagi pendaftar univ (regional) yang punya major science/engineering.

Jadi saranku, jika kamu punya akademik yang bagus udah gitu dari jurusan science/engineering (apalagi udah kenal professor di sana), cobalah daftar melalui univ track. Lebih berpeluang lagi kalo kamu daftar di univ regional (yang bukan di Seoul). 

Alasan lain aku daftar via university track karena aku ngrasa essay-ku (yang buat daftar beasiswa) bakal kelihatan interesting jika dibaca oleh pihak universitas dari pada pihak embassy. Seandainya nih ya.. aku berada dalam adu debat, di situ ada tokoh-tokoh kampus seperti dosen, peneliti, professor. Ada juga tokoh-tokoh pemerintahan seperti gubernur, mentri, atau diplomat. Maka aku ngrasa bahwa tokoh-tokoh kampus tadi justru akan bersekutu sama aku. Sementara tokoh-tokoh pemerintahan malah ga ngerti yang aku omongin atau malah kontra. Paham kan maksudku? Jadi kenali diri kamu, dalami isi essay kamu, baca berulang kali, dan in the of the day setelah jeda waktu agak lama, kamu baca lagi essay kamu untuk terakhir kalinya, sambil posisikan diri kamu sebagai penyeleksi.

Oh ya.. about Essay.. menurut aku ini point yang ga kalah penting setelah recommendation letter. Apapun beasiswanya itu, ga cuma KGSP. Gimana Essay yang baik? Secara general tentang essay, aku cuma bisa bilang, "Buatlah essay yang unik yang pelamar beasiswa lainnya ga nulis kayak gitu tapi itu yang sebenernya dibutuhin si penyelenggara beasiswa". Pertama cobalah baca guideline dan tulis point-point yang yang diminta oleh guideline beasiswa tersebut.  Boleh sih baca tips-tips nulis Esai di blog-blog tapi jangan ngikutin point-point penyampaian mereka karena biasanya setiap panduan beasiswa udah nunjukin point-point apa aja yang harus disampaikan.

Satu lagi tips. Di paragraph sebelumnya aku bilang “apalagi kalo udah kenal Prof”. Yes, nyatanya, kenal lebih dulu prof di sana bakal ngaruh ke hasil seleksi. Logikanya gini, buat negara yang non-english speaking country jarang banget kuliahnya diajar dalam Bahasa Inggris ( fully english), jadi semua nilai akademik umumnya bergantung pada aktivitas lab. Bisa dibilang semacam research-based study gitu. Lain halnya kalo kamu udah lancar banget Bahasa Korea atau kelas kamu bakal fully English (pengajarnya bule lagi), kamu bisa nggantungin belajar cukup dari kelas aja.

Nah, yang model-model research-based study itu perlu banget yang namanya Profesor agar udah jelas kita nanti masuk lab mana dan kelihatan kita udah siap apa belum buat kuliah. Trust me, seleksi masuk lab lebih susah dari pada seleksi masuk univ. Sebenernya, saat pendaftaran KGSP ini aku juga lagi proses ndapetin professor. Klik di sini buat tau ceritanya. Dan jujur, kalo bukan karena prof tersebut juga mungkin aku ga lolos KGSP. Hehe.

Aku sadar aku bukan yang terbaik. Aku percaya banyak pendaftar lain yang lebih baik dari aku, IPK lebih tinggi, TOEFL lebih tinggi, pengalaman or prestasi lebih banyak, dan lain-lain. Aku hanya beruntung, dan keberuntungan adalah kesempatan yang bertemu persiapan (usaha) . NIIED udah nyediain kesempatan buat kuliah di Korea dengan beasiswa, yang tinggal kita lakukan adalah mempersiapkan (red: usaha). Dan persiapan itu bukan hanya sekedar nulis essay, tes TOEFL, or nyiapin berkas pendaftaran lainnya. Persiapan yang sesungguhnya bahkan dimulai dari 5 tahun sebelumnya. Misalnya seperti ketika kita lulus SMA dan milih major yang mau kita ambil (Sebab kenyataannya, major S1 ternyata berpengaruh juga kan sama lolos nggaknya beasiswa buat S2? Major S1 yang dipilih juga ternyata berpengaruh sama IPK yang bakal kita dapetin kan?).

Nah, Sendainya nih.. kita udah merasa sangat siap! Kesiapan/persiapan kita udah sesuai banget sama kesempatan yang ada. Itu berarti bakal beruntung? Belum tentu… Kesempatan bukan sekedar ada lowongan beasiswa dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, tapi mereka juga punya kuota. Nah, agar makin beruntung, kita perlu persiapaan (usaha) lebih jauh. Apa itu? Kita harus bisa baca PELUANG!! Bagaimana cara mengukur PELUANG? Kita harus baca KEADAAN? Gimana cara melihat KEADAAN? Kita bisa baca blog-blog tentang kegagalan atau pengalaman orang lain, Atau kita cari pengalaman sendiri dan jika gagal, kita bakal belajar dari situ dan baca keadaan dari situ. Kalo udah baca peluang, kita bakal tau hal-hal yang bisa menambah kemungkinan lolos lho, misalnya nyari Prof duluan, atau milih kampus regional, atau ngumpulin berkas-berkas yang sebenerya ga wajib (aku ngumpulin TOEFL ITP -ku dan artikel skripsi-ku padahal ga disuruh. Lol.).

Dalam suatu seleksi, entah itu KGSP atau apapun… Ambil suatu waktu untuk berpikir dan memposisikan diri sebagai penyeleksi. Penyeleksi yang dihadapkan pada ribuan pendaftar. Lalu pikirkan “Apa yang penyeleksi inginkan dari seorang pendaftar?” It’s okay to act less, as long as you think more! It is better having small or less action but it’s already arranged by thought, instead of having long or many actions but all of those are without preparation like gambling.

So good luck! All these writing are purely from my mind. I know some of you may have different opinion. So, take it or leave it, It’s all your decision!

Kalau mau lihat essayku buat referensi mungkin  ---> download di sini

Oh ya.. cuplikan salah satu esssayku kayak caption di instagram berikut ini :


"... But the most memorable one is when I was chosen to be exchange student in South Korea, which also made me to go abroad for the first time. It was like life changing experience. I met many people from different background, culture, or nations. It opens my eyes and makes me realize that I am really small. There is always sky above the sky, and on which sky we are standing now, it depends on our environment. In Indonesia, in my university, I might try my best in that sky level, but I believe that by widening my environment I may be better than my best. For that reason, I have a high motivation to study abroad..." . . Itu adalah cuplikan di salah satu esai-ku waktu daftar KGSP, beasiswa yang tidak pernah aku sangka akan aku dapatkan, apalagi pada percobaan pertama. Aku tahu KGSP sejak 4 tahun yang lalu, dan tidak pernah tersirat sedikitpun untuk mendaftar karena memang sejak dulu KGSP tidak mengizinkan former exchange student untuk mendaftar. Siapa sangka? ketika aku sedang jatuh-jatuhnya karena gagal LPDP, ketika aku merasa tidak memperoleh apa-apa sejak setahun lulus, ketika aku mulai merasa harus menyimpan mimpiku dan beralih mimpi, tiba-tiba KGSP application dibuka dan untuk pertama kalinya memperbolehkan former exchange student untuk mendaftar. When Allah makes you wait, you are gonna get more than what you want. #AfifaInKorea #KGSPJourney #Day9 #StudyAbroad #아피파한국에서 #studyinkorea #StudyMaster #한국에공부 #KGSPAwardee
Sebuah kiriman dibagikan oleh Afifatul Mukaroh (@vhiefa) pada
Read More

Sunday, July 16, 2017

JOURNEY TO JAKARTA


Tujuan utama mau apply visa Korea

Ekspektasinya pengen jalan-jalan

Kenyataannya malah ngeservice HP

Jakarta itu keras. Sangking kerasnya, tanah Jakarta bisa bikin HP jatuh jadi pecah cah cah cah! Padahal ini Samsung lho. Dulu gue punya hape LG (yang menurut gue setara sama Samsung) dan waktu itu gue kecelakaan hebat ketabrak bis, guenya patah tulang, HP-nya masih utuh. Nah ini? Gue ga nyangka banget asli. Padahal gue juga baru beli (5 -6 bulan yang lalu). Sedih!

Padahal waktu beli tuh HP pertimbangan gue berat banget lho. Waktu itu adalah bulan terakhir gue kerja (which means habis itu gue ga bakal ada penghasilan). Gue galau antara make uang buat upgrade laptop gue atau beli HP baru, dan gue memilih beli HP baru. You know what? Sebagai freelance programmer Android, upgrade RAM laptop itu penting banget padahal. Tapi gue memilih buat sabar sama laptop lama gue, nungguin android studio gradling berjam-jam tiap ngoding, demi apa? Demi HP ini!!!!

Saat itu emang gue mikirnya kalo beli HP mending beli yang bagus sekalian, buat jangka panjang. Nah jangka panjang di sini sampe udah gue pikirin tentang kehidupan gue di Korea (padahal waktu itu gue masih tahap seleksi lho, udah PD banget bakal lolos. wkwkwk). Berdasar pengalaman, kehidupan di Korea itu nuntut banget buat pake smartphone yang canggih, soalnya di sana semua serba digital. Kemana-mana bawanya HP, bukan dompet. Jadi gue beli Samsung, karena selain ini HP produksi Korea, gue ngrasa HP ini bakal nge-cover segala keperluan gue di Korea nanti.

Jadi ceritanya gini, sore itu gue udah janji mau ketemu temen-temen KGSP buat jalan-jalan di Kota tua Jakarta. Gue udah telat banget, jadi gue buru-buru gitu. Gue megang HP ngechat mereka sambil charger belum gue cabut dan bergelantungan di HP, itupun posisi gue sambil  berjalan keluar penginapan. Tiba-tiba kakak gue manggil dari belakang bahwa kamar ga bisa dikunci, gue pun jalan putar balik buat mbantu ngekunci yang ternyata susah banget dan bikin esmosi. Tiba-tiba lagi taksi online yang gue pesen nelpon dan bilang udah di depan, gue pun langsung berbalik arah buat keluar penginapan. Di saat bersamaan pikiran gue lagi panik, kesel, buru-buru, campur-aduk, dan tiba-tiba gue ngerasa charger HP yang dari tadi bergelantungan nyangkut (entah apa) di belakang, sementara gue lagi berjalan keluar jadinya ada daya tarik-menarik di situ dan plak!!! HP jatuh dari tangan gue dan terpelanting ke lantai dengan posisi tengkurep. Kejadiannya sangat cepat, jadi jangan komen “Kenapa pas tarik-menarik lo ga pake kekuatan super saiyan aja biar ga jatuh dari tangan Fa!” Rrrrrrrgghttt…. -_-

LCD HP gue pecah! Biar dramatis gue ulangin lagi, PECAH!!! Iya PECAAH!!! Bukan cuma retak. Jadi itu layar HP warnanya item, biru, ungu, ga jelas! Gue ga habis pikir kenapa layar HP Samsung bisa serapuh hati gue gini (halaah).

Esoknya, seharian gue ngehabisan waktu di ITC Roxy Mas buat memperbaiki HP gue. Padahal rencana awal mau muter-muter Jakarta naik city tour bus. Pffttt!! Sial!! Semua Itenerary yang udah gue tulis ga berjalan sesuai rencana.

Btw, biar tulisan ini lebih bermanfaat. Gue mau sharing pengalaman bikin visa sebagai awardee KGSP. Iya! Gue tau pembuka tulisan ini ga nyambung banget. Soalnya di internet kemarin gue browsing2 mayoritas  nulis cara bikin visa umum (pelajar umum), jarang yang nulis sebagai awardee KGSP. Pdahal ya, awardee KGSP dapat banyak banget kemudahan buat bikin visanya lho. Secara kita kan dipilih oleh pemerintah Korea sana. Jadi lo ga perlu repot-repot ke Jakarta juga sebenernya kalo domisili lo jauh dari sana.

Well, secara umum syarat-syaratnya mirip yang tercantum di website Korean Embassy. Tapi, check kemudahan2nya sbg berikut :

  1. Kamu bisa pake hasil x-ray yang dipake seleksi KGSP dlu. Tinggal bawa aja ke RS yang ditunjuk, nanti suruh mereka bikinin surat bebas TB sesuai format dari Embassy tanpa perlu x-ray ulang lagi. Lebih hemat biaya booook.
  2. Kamu para awardee bisa bikin serentak, titip-titipan gitu lho. Udah gitu ga perlu nunjukin surat kuasa atau ijazah aslinya.
  3. Jelas, kamu ga perlu ngumpulin rekening koran Bank atau bukti keuangan lainnya.
  4. Bingung ngisi form visa-nya gimana? Isi aja sepahammu. Santai!! KGSP awardee ini. Kalo masih bingung kosongin aja. Hehe
  5. Terakhir, yang paling menggiurkan. Kamu ga perlu bayar biaya aplikasi visa. Jadi nanti di kuitansi kamu bakal ada cap GRATIS-nya, dan itu bukan cuma 1 cap, tapi berkali-kali cap. Sungguh kenikmatan tersendiri melihat kuitansi dengan cap gratis dimana-mana. Wkwkwk.
See the "gratis" stamps? Nama Edi yang tertulis di situ soalnya kita bikin visa bareng2. hoho


Itu sesuai pengalaman gue kemarin ya… Kalo lo awardee KGSP tahun depan, gue ga njamin kalo kemudahan tersebut masih berlaku. Karena kadang kebijakan bisa berubah-ubah. Hehe.

Akhir cerita, gue mau berbagi foto-foto dari sedikit tempat wisata di Jakarta yang gue kunjungin, yang semuanya di luar itinerary tulisan gue, bahkan sampe ada wisata tak terduga juga (wisata religi). Wkwkkw. Check these out, readers!!

Yeayyy!!! Ketemuan sama Emi di MONAS


dinner bareng

Ini gue dan kakak gue rencananya mau ke pelabuhan Sunda Kelapa, eh malah nyasar di suatu mesjid (mau sholat duhur waktu itu). Ga di sengaja juga di mesjid tersebut banyak orang-orang datang berbis2 bahkan ibu-ibu berseragam item semua (kebetulan gue dan kakak gue pake gamis item lagi). Ternyata eh ternyata di masjid tersebut ada makam tokoh agama Habib Husain yang biasa dijadikan tempat ziarah. Akhirnya ikut nimbrung rombongan ziarah deh.

Kita berangkat ke Ancol jam 1 siang, pulang jam 3.30 sore karena kejar-kejaran sama kereta balik ke Semarang, dan itu hari MINGGU!! Ancol  macet!! Alhasil banyak tempat di Ancol yang terlewatkan.

Bonus!! Foto Selfie!! Sekali-kali! Gue kan jarang upload foto selfie. Hehe

Read More

Monday, May 22, 2017

BERBURU BEASISWA S2 ALA AFIFA



Salah satu cuplikan film berjudul “ME 21” dan gue sengaja buka tulisan ini dengan cuplikan tsb krn gue pernah merasakan spt tokoh di sana, dimana gue sangat kesal karena uang itu bukan segalanya, masa’ cuma gara-gara uang gue ga jadi kuliah?


Well, semua dimulai tahun 2012 lalu sebelum gue berangkat student exchange ke Korea. Saat itu pas gue browsing-browsing tentang beasiswa ke Korea gue nemu KGSP. Pertama tau KGSP, gue langsung nargetin bahwa ntar pas udah lulus, gue harus daftar ini. Apalagi gue mau student exchange ke sana. Inshaallah ini bakal jadi poin plus gue buat keterima KGSP. Sip! Boomarked!

Tahun 2013, giliran gue udah di Korea buat exchange study, gue dapat kabar ternyata mulai tahun itu, tahun 2013, KGSP tidak mengizinkan orang yang pernah pegang visa pelajar di Korea buat daftar KGSP, termasuk yang pernah student exchange. OMG! Tisyu.. mana tisyu..

Mungkin gue harus cari beasiswa lain buat S2 ke negara ini. Selama di sana gue mengamati para mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana. Mayoritas mereka yang non-KGSP student kuliah dengan beasiswa professor. Tapi aku suka sedih lihat mahasiswa2 bea prof itu. Mereka paling susah diajak ngumpul, hari-hari ngelab, muka kelihatan capek-ngantuk. OMG. Segitunyaa yaa…. Kemudian gue berpikiran, mungkin gue ganti target ke Jepang aja.

Tahun 2014, gue tau LPDP dan gue langsung “Cup”, gue harus daftar itu nanti. Gue ngerasa LPDP itu cocok banget buat gue karena selama kuliah pun gue udah minat ikut organisasi atau volunteering. Apalagi gue alumni Bidikmisi, jiwa nasionalis gue juga udah terasah dari pelatihan-pelatihannya selama kuliah.

Tahun 2016, setelah lulus S1. Ga ada target lain selain daftar LPDP. Semua yang gue lakuin, waktu gue, tabungan gue, hati gue, napas gue, jiwa gue, raga gue, semata buat prepare LPDP. (Pardon my lebayness)

Temen-temen gue sampai heran “Kenapa ga daftar kerja aja Fah? Lowongan IT banyak banget lho?”. Lain lagi sama temen yang jurusan non-IT, mereka malah bilang, “Ga coba daftar di Bank aja Fa? Biasanya gampang lolos lho itu”. Lain lagi sama tetangga-tetangga gue di Kampung, “Fifa udah lulus kan? Kapan nikah?”. -_-

Oke, well. Sebagai orang yang ga bisa fokus pada banyak hal, biasanya kalo gue maksain buat ngelakuin dua hal sekaligus maka dua-duanya malah bakal gagal atau ada salah satu yang akhirnya gue tinggalin atau jadi kacau.

Tapi gue sadar, "jer basuki mawa bea". Mau daftar beasiswa pun butuh modal yang ga sedikit. Akhirnya gue pun daftar-daftar kerja yang jam kerjanya dikit. Ga peduli meski gajinya dikit, asal itu cukup buat modal beasiswa. Hehe.

Surprise-surprise.. Waktu itu pas gue lagi ngrancang buat pergi ke Pare biar englishnya jago, eh gue dapat kabar bahwa gue lolos internship di suatu international NGO. Berhubung banyak expat di situ, siplah gue ga perlu ke Pare lagi. Jam kerjanya pun cuma 10-40 jam seminggu, jadi gue tetep ada waktu buat prepare LPDP.

Singkat cerita.. Gue daftar LPDP di batch 4 tahun 2016, gue daftar ke Tokyo Tech di Jepang karena di situ ada jurusan yang sesuai research interest gue. Gue juga udah hubungi beberapa professor di sana. Dari semua prof yang dihubungi, ada satu prof yang ngrespon baik ke gue sampai dia njelasin study culture di Tokyo Tech, cara pendaftaran, dan research-research dia via skype. Udahlah gue yakin banget 89.999% gue bakal lolos LPDP.

Tapi…

*please turn on mellow music for background*

Gue ga loloooos... Sakittt.. Rasanya kayak hidup di kosan pas tanggal tua, bela-belain beli indomi di warung pas ujan, masak indomie di teko heater, eh.. giliran airnya mau disaring, mie-nya ikut jatuh ke wastafel. Sakitt.. (Iya.. gue ga jago bikin perumpaan)

Kebetulan pas wawancara kan gue nemu banyak temen tuh. Gue tanya-tanya ke mereka juga pada ga lolos, padahal menurut gue mereka udah TOP banget. Oke, gue mencoba positive thinking, mungkin LPDP lagi menekan kuota yang lolos karena dana, soalnya emang sebelumnya ada issue bahwa LPDP malah ga bakal dibuka lagi. Benar saja, tahun 2017 LPDP cuma ada 1 batch. Terus beasiswa pemerintah lainnya kayak BU juga ga buka pendaftaran kampus luar negeri lagi.

Saat itu gue mengalami kegalauan luar biasa. Apa gue kerja aja? Apa gue nikah aja? Oke.. pilihan kedua ga mungkin karena belum ada calonnya. Akhirnya gue pun mencoba daftar-daftar pekerjaan yang professional, yang fulltime, dan sesuai background gue (Soalnya masa intern gue di NGO itu juga udah mau habis). Cuplikan wawancara gue pas daftar kerja,

“Afifa sebenernya punya background IT yang bagus dan udah lulus lama, kenapa baru daftar kerja sekarang?”
“Soalnya kemarin saya fokus mau lanjut S2, Pak!”
“Berarti motivasi utama Afifa sebenernya buat lanjut S2 dari pada kerja?”
“Iya pak. Ini juga mau daftar-daftar lagi sambil kerja.”
“Seandainya nih.. Di tengah-tengah kontrak kerja Afifa lolos S2. Mana yang bakal Afifa pilih?”

Jeng… jeng..!!! MAMPUS!! Akhirnya dengan jujur dan ga tau malu gue jawab pilih S2. Haha. Jelas, gue ga lolos kerja itu. Wkkwwkwk.. Tapi emang, gue ga bisa membohongi hati gue. Passion gue waktu itu lebih di academician dari pada professional worker. Hehe.

Beruntung partner gue intern juga punya motivasi yang kayak gue, yaitu buat lanjut kuliah lagi.

“Ya ampun, Fa. Baru satu kali gagal aja udah nyerah! Aku udah gagal berulang kali sebelumnya, ini masih mau daftar-daftar beasiswa. Kamu tau mbak ini kan? Dia bisa lolos beasiswa kayak sekarang itu setelah 2 tahun lulus lho. Terus si itu tau kan? Dia juga bla bla bla…”, begitulah kira-kira katanya.
Waktu itu temen intern gue itu lagi semangat-semangatnya daftar Fulbright Aminef. Gue pun akhirnya ikutan daftar, sampai gue tes toefl lagi dengan harapan skornya bisa naik (eh ternyata malah turun dari sebelumya). Walaupun sebenernya gue ga ada minat buat kuliah ke Barat, tapi seenggaknya itu bisa ngebalikin motivasi gue buat berjuang nyari beasiswa lagi. Haha. Kali aja gosok-gosok berhadiah juga.

Sambil nunggu pengumuman Fulbright, temen intern gue tiba-tiba ngabarin bahwa beasiswa KGSP udah bukaan. Gue sih “don’t care” gitu. Soalnya semenjak exchange itu, gue tau bahwa“Ex-exchange students aren’t allowed to apply”. Jadi mulai tahun 2014, 2015, 2016 setiap ada share2-an link pendaftaran KGSP di timeline sosmed, gue ga pernah klik. Bikin sakit hati. Hiks.

Sampai beberapa waktu kemudian (H-1 bulan deadline KGSP), temen intern nanyain lagi,

“Serius ga minat KGSP? Kenapa?”
“Kan ex-exchange student ga boleh daftar?”
“Boleh kok. Nih aku tunjukin. “
“What? Seriusaaan? Sejak kapan ini? Kok boleh?”
“Kayaknya sejak tahun ini.”

OMG!!!! Gue seakan mendengar Tuhan berbisik “This is your year for KGSP, Afifa!”.

Selama ini gue suka menganalisa kegagalan atau keberhasilan gue, dan gue menemukan pola di situ. Entah kenapa gue berpikiran bahwa suratan Tuhan terhadap gue itu ada polanya. Wkwkwkw.. Intinya polanya itu kayak gini :

1. Jika gue dapet kegagalan, maka selanjutnya gue bakal dapet keberhasilan. Begitupun sebaliknya. Jadi jumlah kegagalan dan keberhasilan di hidup gue itu selalu seri. Karena gue percaya itu cara Allah berbuat adil.
2. Jika dalam meperjuangankan sesuatu gue selalu saja dihadepin kesulitan atau ada aja halangan yang ngebuat gue berjuang lebih besar dari yang lain maka biasanya gue bakal berhasil. Entah itu halangan berupa ga punya uang, atau tiba-tiba ban bocor, atau tiba-tiba  berkas pendaftaran gue kehujanan, dll. Karena gue percaya ujian-ujian yang Allah berikan itu setara sama keberhasilan yang bakal gue dapet.
3. Jika gue punya mimpi sejak lama, tapi udah gue tangguhkan/abaikan karena suatu hal yang sebenernya sepele. Terus tiba-tiba banyak kejadian-kejadian “kebetulan” yang mengarahkan gue buat memperjuangkan itu lagi, biasanya gue bakal berhasil. Karena gue percaya kejadian “kebetulan” itu adalah petunjuk dari Allah.

Nah, soal KGSP ini, gue rasa sesuai pola ke-3, gue pun semangat banget buat daftar. Langkah pertama adalah browsing-browsing kampus di Korea.

Eh… belum sempet browsing-browsing tiba-tiba gue dapet info dari temen tentang lowongan mahasiswa di lab seorang professor dari Pusan National Univ (Korea) dan beliau nyediain beasiswa research grant juga. Ini kayak kesempatan yang prestisius juga, soalnya ini baru pertama kalinya gue dapet info tentang “lab recruitment”. Gue juga baru tau kalo ternyata “lab recruitment” itu adalah salah satu cara buat dapet beasiswa prof. Kirain selama ini satu-satunya cara dapet beasiswa Prof itu adalah dengan deket duluan sama prof, sering email-emailan sama prof atau punya riset yang mirip sama Prof. Jadi menurut gue, “lab recruitment” ini sangat sayang buat dilewatin, terutama buat gue yang ga pernah deket sama prof manapun apalagi punya riset mirip prof.

Masalahnya adalah… ada walk-in interview-nya juga di Surabaya. Jauh. Udah gitu saat itu gue udah ga internship lagi dan ga ada pemasukan. Gue juga udah keluar banyak uang buat daftar-daftar beasiswa sebelumnya. Pake beasiswa prof buat kuliah di Korea juga kayaknya berat macam temen-temen gue yang kuliah di Korea dulu. Udah gitu, pas baca paper-paper beliau gue ga ada yang paham. Haha. Jadi gue bertanya-tanya, is it worth to struggle that?

Seenggaknya gue daftar dulu dah. Misal nanti ga dateng walk-in interview di Surabaya juga kayaknya gapapa (ngelus-elus dompet).

Gue pun email prof tersebut buat daftar sekaligus ngenalin diri gue dan research interest gue. Eh, ga taunya email gue dibales sama prof, yang intinya dia mau baca CV gue dan sangat berharap buat ketemu gue di Surabaya nanti. Omaigaaattt!!! APA MAKSUDNYA INI? (Meluk-meluk dompet).

Sejak itu gue ngerasa kayak orang yang lagi kasmaran. Entah temen kosan gue udah bosen gue curhatin atau ga. Hari-hari gue selalu aja bilang,

“Gimana kalo Prof bales emailnya bukan cuman ke gue? Gimana kalo dia kayak gitu ke yang lain juga?”
“Gimana kalo balesan email Prof itu cuman mau PHP-in hati gue?”
“Gimana kalo setelah Prof ketemu gue di Surabaya dia malah ninggalin gue?”
"GIMANAA... GIMANAA.. GIMANAAA?"

Eh ujung-ujungnya gue dateng ke Surabaya juga (nangisin dompet).

Ceritanya pas gue di Surabaya di sini. KLIK.

Setelah ngurus segala macam hal tentang Prof ini (berkas, translate skripsi, wawancara, dll), entah kenapa tau-tau udah H-10 deadline KGSP. OMG!!! Banyak hal yang belum gue siapin. Karena ga sempet browsing2 kampus, gue pun pilih kampus dan jurusan sesuai Prof yang udah bikin gue galau itu. Gue juga akhirnya ndaftar pake paket super cepet (dan hemat). Bayangin!! Berkas yang non-english gue translate sendiri terus minta cap Kepdes. Berkas fotokopianpun ga gue notaris-in tapi legalisir dari Capil. Soalnya hasil browsing-browsing biaya notaris dan sworn translator itu masing-masing 100ribuan. Ah. Makin bokek nanti gue. Wkwkkw

Masalah lain datang lagi. Ini karena ijazah versi translate dari kampus yang ga jadi-jadi (yang ternyata punya gue keselip gitu). H-5 hari deadline KGSP gue di kampus, nekat maksa akademik buat segera jadiin ijazah English gue, karena hari itu juga gue harus kirim berkas gue ke Korea. Dan jam 3 pm, gue pun dapet ijazahnya. Sekarang saatnya legalisir ijazah tersebut. Masalahnya lagi sesuai SOP, legalisr baru jadi 3 hari kemudian. OMG!!! Akhirnya gue ga ngikutin SOP yang mana legalisir harus lewat kesma. Gue pun langsung nemuin Dekan, eh Dekan udah pulang. Akhirnya langsung nemuin PD I. Gue ceritain bahwa hari itu juga gue harus kirim berkas karena deadline sudekaat. Akhirnya PD I yang awalnya ragu mau legalisir langsung.

Jam 4 pm gue balik ke kosan, bikin essay dan ngisi-ngisi form. Hahahha. Berhubung buat beasiswa2 sebelumnya gue udah bikin essay. Jadi gue tinggal edit dikit-dikit aja. Ternyata dalam keadaan tertekan dan buru-buru, edit essay pun makan banyak waktu. Jam 7 malem baru selesai. Gue mulai print-print dan nata berkas sampai jam 9 malam. Habis itu gue langsung cuz ke Kantor POS Pusat yang masih buka. Antri lama sampai akhirnya mereka bilang,

“Maaf mbak.. kalo pengiriman luar negeri batasnya sampai jam 9. Ini udah jam 9 lebih.”
“Apaaaa??” (kamera zoom-in ke muka)
“Besok pagi saja bisa mbak.”
“Tapi kalo ke Korea berapa lama sih Pak?”
“3-5 hari. Dan minggu tidak dihitung. Jadi kalau ngirim besok, normalnya bakal sampai hari kamis.”
“Appaaa???” (kamera zoom-in lagi, sampai lobang hidung doang yang kelihatan)

Bener-bener ga ada harapan karena hari rabu adalah deadline berkas harus di sana. Alamat mau hemat ujung-ujungnya ngluarin banyak duit juga. Karena akhirnya gue ngirim pake DHL biar sampai tepat waktu. Mana berkas gue lebih dari 0.5 kg. Biayanya lebih mahal dari pada buat ngurus notaris or sworn translator.

Tapi okelah. Ga pa-pa. Seenggaknya sekarang gue udah tenang. KGSP tinggal nunggu pengumuman. Beasiswa Prof juga tinggal nunggu pengumuman.

PS : Episode berikutnya.. eh tulisan berikutnya.. Afifa akan menceritakan tentang kegalauannya karena ternyata dia lolos dua-duanya baik KGSP maupun beasiswa Prof. Afifa juga belum bisa memutuskan karena walaupun sudah lolos keduanya, Afifa masih harus melalui peoses lanjut lagi yang lebih MENEGANGKAN, MENAKUTKAN, MENGERIKAN! Penasaran? Tunggu tanggal mainnya dan always stay turn kepoin blog gue! (sok seleb-blog banget gue -_- Ampuuun!!)
Read More

Saturday, May 13, 2017

Cobain Yuk Menu Baru di Hokben!

Tanggal 1 Mei kemarin aku dan temen-temen dari Blogger Gandjel Rel alhamdulillah dapet kesempatan buat nyicipin menu baru dari Hokben sambil #NongkrongAsyik tentunya.

Hokben sendiri apa? Ga perlu dijelasin lagi kan ya? Udah tau kan?

Tapi baiklah. Aku jelasin lagi. HokBen (singkatan dari Hoka Hoka Bento) adalah jaringan restoran waralaba makanan cepat saji yang menyajikan makanan Jepang yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Hingga kini, HokBen memiliki 350 gerai yang tersebar di pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan. 

Nah, yang kemarin itu aku dan temen-temen blogger nongkrongnya di Hokben Semarang, tepatnya di Paragon Mall lantai 2. Kita dikenalin gitu sama beberapa Menu Dessert dan Snack Terbaru Hokben di Hokben. Yang pasti bakal menambah keragaman menu makanan atau minuman di Hokben yang ga kalah Yummy.. Mau tau apa? Okay, check this out!

1. Sakana Sticks

Penampakan Sakana Stick Original

Sakana Sticks adalah olahan nugget dari ikan bentuk stik dibalut tepung khas HokBen. Tersedia dalam pilihan rasa original maupun rumput laut. Kalo aku pribadi suka banget yang rumput laut. Snack ini cocok banget buat rumpi-rumpi sambil cemal-cemil. Nongkrong makin asyik kalo sambil ngemil ini. 

2. Ocha Lychee Tea

Ocha Lychee Tea

Nah, kalo udah cemal-cemil sambil ngobrol kan haus tuh? Ocha Lychee Tea adalah solusinya. Paduan ocha dengan rasa leci dari minuman ini bisa nyegerin tenggorokanmu yang kering pas lagi rumpi-rumpi sama temen. Haha.

3. Soft Puding

Soft Pudding

Bagi yang nyemilnya lebih suka sama yang manis-manis bisa nyobain ini, Soft Puding!!! Hadir dalam pilihan rasa taro dan mangga. Jadi varian puding di Hokben makin lengkap deh, yang sebelumnya ada rasa Coklat dan Karamel.


Oh ya, soal harga juga murah banget. Masing-masing menu baru tersebut harganya sekitar Rp 16.000 - Rp 18.000. Terjangkau pastinya kan?

Sekarang kalo mau nongkrong sama temen ke hokben aja! Makin asyik ngobrol makin seru manjain lidah!! #nongkrongasyik di #HokbenSemarang:)

Yang aku makan di Hokben Kemarin. Yummy
  
Oh ya, pas acara temu komunitas itu selain nyobain menu-menu di Hokben, kita juga belajar cara membuat Shibori. Apa itu Shibori?

Dijelasin tentang Shibori

Proses pembuatan Shibori (pewarnaan dengan dicelup)

Shibori merupakan salah satu kesenian dari Jepang untuk membuat pola pad kain. Kalo di Indonesia ada batik, di Jepang ada Shibori. Bedanya, kalo batik dibuat dengan lilin yang panas kemudian dilukiskan, kalo Shibori dibuat dengan mencelupkan kain pada cairan pewarna, tapi sebelumnya kain-kain tersebut dibuat polanya menggunakan benda-benda sekitar. Bisa dengan diikat pakai karet, dijepit pakai sumpit, atau dengan balok-balok kayu.

Read More

Thursday, April 13, 2017

JOURNEY TO SURABAYA

Perjalanan ke Surabaya ini bisa dibilang sesuatu yang spesial buat gue. Kenapa? Karena ini menandakan bahwa akhirnya gue udah menjajakan kaki ke semua kota besar di Pulau Jawa. Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah adalah tempat gue kuliah, yang mana lima tahun gue tinggal di sana. Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat, gue datengin pas KKL dulu. Kemudian Jogja, ini malah udah gue datengin berulang kali. Ga SD, ga SMP, ga SMA, wisatanya ke Jogja terus. Belum lagi acara-acara lain kayak nikahan temen gue, pelatihan, jalan-jalan bareng gank, seleksi LPDP, ah udah sering dah ke jogja. Maklum, kota ini lumayan deket sama Semarang. Tapi yang paling berkesan adalah pas gue cuma berdua sama Emi (Sabahat Petir!!) ke sana sampai nginep di hostel, nyewa motor, muter-muterin Jogja. Rasanya udah kayak backpacker gitu. Sama halnya kayak pas gue ke Jakarta, walo gue juga udah sering ke sana, hal yang paling berkesan adalah ketika gue merasakan sensasi backpacker juga. Waktu itu pas gue mau ngurus visa ke Korea, gue pertama kalinya ke Jakarta, pertama kali naik kereta, pertama kali ke stasiun senin, pertama kali naik trans Jakarta, dan sendirian!!! Sensasinya dapet banget, dan gue suka itu.

Nah, di Surabaya ini, gue ga sendirian juga sih. Gue berangkat bareng temen gue (Latifah) dan ayahnya temen gue. Tapi Latifah dan ayahnya langsung pulang balik sementara gue milih buat stay di Surabaya dulu. Kenapa gue milih stay? Karena gue pengen ngerasain sensasi kayak pas gue ke Jakarta atau ke Jogja dulu. Mungkin kalo lo baca tulisan blog gue pas gue Couchsurfing-an di Korea, lo bakal tau bahwa gue seneng aja ketika gue ngerasa kayak backpacker gitu, atau seenggaknya ngerasa kayak gue itu strong and independent woman (ciee elaah) karena gue ga ngeluarin banyak duit dan nggantungin orang banyak buat journey gue. Hahaha.

Pas di Surabaya itu gue nginep di kosannya temennya temen gue, namanya Ninid. Iya! Itu pertama kalinya gue kenal dia. Kenapa gue mau? Karena gue ngerasa sayang aja ngeluarin duit yang pada dasarnya cuma buat tidur. Menurut gue, tidur itu ga perlu experience yang tinggi-tinggi . Cukup bisa merem ga peduli walo beralas tikar doang. Mending duitnya buat beli experience lain kayak jalan-jalan atau nraktir makan orang yang kita inapin. Hey, punya temen baru itu juga experience yang bagus lho! Yakali, suatu saat kita cerita ke anak cucu kita “Nenek waktu itu tidurnya di hotel bintang lima, kasurnya bersprei putih bersih, ada wifi gratis, ….”, mending kan… “Nenek kenalan sama ini… terus kita pergi ke….”

Di Surabaya itu gue ditemenin jalan-jalan sama temennya temenku yang lain (Elfa). Haha. Gue tau Ninid lagi sibuk kuliah dan gue ga mau ngrepotion dia. Untung Elfa yang baik hati ini menawarkan dia dan motor (yang katanya mumpung ada) buat nemenin gue muter-muter Surabaya. Elfa juga baru gue kenal, tapi dia baik banget sama gue. Well, ini pics gue dan Elfa pas jalan-jalan!!!













Iya.. Sayang gue ga punya pics bareng Ninid, atau Latifah. Huhu.

Btw, ada acara apa sih sebenernya gue ke Surabaya? Hehe. Jadi sebenernya gue ikut walk-in interview sama seorang Profesor dari Korea yang sedang merekrut students buat research di lab dia. 

Ya ampun belum bosen-bosen, Fah! Mau lanjut S2??
Belumlah.. baru sekali gagal kok (LPDP itu). Hehe.

Alhamdulillah.. Thanks juga banget buat Latifah yang udah share dan ngajakin gue buat ikut interview tersebut. Karena gue lolos!!! Tapi habis itu masih ada seleksi lanjutan lagi dan gue lagi di proses buat memperjuangkan itu. Mohon doanya ya readers! Semoga lanca
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

My picture

I want to live my life to the absolute fullest, to open my eyes to be all i can be, to travel roads not taken, to meet faces unknown, to feel the wind, to touch the star
I promise to discover myself, to stand tall with greatness, to chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE

Popular Posts

Google+ Followers

Follow by Email

Total Pageviews

Instagram

Instagram

Follow Me

Copyright © Vhiefa | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com